Dalam laporan mingguan Crypto Long & Short yang dirilis CoinDesk, CEO Index Industry Association Kirsten Wegner menekankan bahwa indeks adalah alat kunci dalam evolusi pasar aset digital. “Indeks mengubah data perdagangan yang terfragmentasi dari berbagai jenis sekuritas—dari ekuitas hingga obligasi hingga aset digital—menjadi angka yang jelas dan dapat dibandingkan yang benar-benar bisa digunakan investor,” tulis Wegner.
Sepanjang sejarah keuangan, kemunculan patokan tepercaya selalu menandai momen ketika sebuah pasar baru layak diinvestasikan. Saham, obligasi, komoditas, dan mata uang masing-masing mengembangkan patokannya sendiri saat matang. Kini, aset digital mengikuti jalur yang sama.
Wegner mengingatkan bahwa satu dekade lalu, harga kripto tersebar di berbagai bursa dengan standar yang sangat berbeda, memaksa investor menebak nilai wajar. Saat ini, metodologi berbasis aturan mengagregasi data dari berbagai bursa, menyaring kualitas, dan menandai anomali—menghasilkan titik acuan yang cukup andal untuk menjadi patokan harga derivatif dan mendukung ETF bitcoin spot yang kini menarik modal institusi.
“Kepercayaan itu datang bukan karena harga naik, tetapi karena pengukuran membaik,” tegas Wegner.
Satu hal yang perlu dipahami: indeks tidak memegang aset atau uang. Indeks adalah konstruksi statistik berlisensi, pengukuran berbasis aturan yang bisa dikaitkan dengan riset atau kendaraan investasi seperti ETF. Manajer aset membangun produk dan memegang modal; indeks menyediakan tolok ukur. Pemisahan ini menjaga pengukuran tetap independen dari uang yang diukurnya.
Laporan baru dari Index Industry Association mengkaji bagaimana indeks aset digital berevolusi untuk memenuhi ekspektasi ini—dan harus terus berkembang seiring stablecoin dan aset tokenisasi memasuki gambarannya.
Di sisi lain, Presiden CoinDesk Data & Indices Dave LaValle melihat garis pemisah antara keuangan tradisional (TradFi) dan kripto mulai menghilang. Dalam wawancara dengan The Wealth Advisor, LaValle menyebut peluncuran ETF bitcoin oleh Morgan Stanley pada awal April sebagai sinyal paling jelas.
“Tim Morgan Stanley meluncurkan ETF bitcoin mereka pada awal April, dan sedikit lebih dari sebulan kemudian, mereka sudah mengelola aset lebih dari 230 juta dolar AS,” kata LaValle. “Mengumpulkan 230 juta dolar dalam waktu sebulan, itu gila.”
LaValle memandang kripto sebagai teknologi disruptif yang membutuhkan dua hal untuk berkembang: teknologinya sendiri—yang sudah ada—dan kejelasan regulasi. Undang-Undang GENIUS telah menetapkan kerangka untuk stablecoin yang di-backup Treasury AS, sementara Undang-Undang CLARITY yang membahas struktur pasar bisa mencapai pemungutan suara dalam satu atau dua bulan ke depan.
Bagi penasihat keuangan, daya tariknya ada pada imbal hasil. “Produk seperti Ethereum atau Solana akan memiliki staking yang tergabung di dalamnya,” kata LaValle, menyebut imbal hasil ether sekitar 3% dan solana bahkan lebih tinggi.