SUMATERA UTARA — Pernyataan kontroversial itu disampaikan Ceferin dalam sebuah konferensi di Ljubljana, Slovenia, dan dilaporkan oleh media setempat. Ia menilai format baru Piala Dunia akan mengurangi daya tarik laga-laga di babak penyisihan grup. "Kami punya banyak pertandingan yang sama sekali tidak menarik," ujar Ceferin dalam laporan tersebut.
Meski demikian, Ceferin juga mengakui bahwa perluasan ini memberi kesempatan bagi negara-negara kecil untuk merasakan atmosfer Piala Dunia. Namun, pengakuan itu tidak cukup meredam kemarahan federasi yang negaranya lolos ke turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada itu.
Pada Minggu (16/2), 13 federasi sepak bola mengeluarkan pernyataan bersama yang menolak keras komentar Ceferin. Mereka adalah Cape Verde, Curacao, Uzbekistan, DR Kongo, Haiti, Aljazair, Tunisia, Maroko, Mesir, Ghana, Senegal, Pantai Gading, dan Afrika Selatan.
"Kami dengan hormat namun tegas menolak komentar ini. Bagi negara kami, tidak ada yang namanya pertandingan Piala Dunia yang tidak penting," demikian bunyi pernyataan bersama tersebut.
Dalam pernyataannya, para federasi menekankan makna mendalam di balik setiap tiket lolos ke Piala Dunia. Bagi Cape Verde, Curacao, dan Uzbekistan, kualifikasi disebut sebagai pencapaian bersejarah dan realisasi mimpi lintas generasi. Sementara bagi Kongo dan Haiti, kembalinya mereka ke panggung terbesar sepak bola setelah absen puluhan tahun memiliki arti khusus bagi jutaan pendukung.
"Di balik setiap kualifikasi, ada kerja keras dan investasi bertahun-tahun. Di balik setiap tim nasional, ada komunitas utuh dan jutaan orang yang melihat sepak bola sebagai sumber kebanggaan, harapan, dan persatuan," tulis mereka.
Pernyataan bersama itu juga menegaskan bahwa sepak bola tidak hanya milik segelintir negara elite. "Kekuatannya justru berasal dari universalitasnya. Setiap tim yang lolos telah mendapatkan tempatnya berdasarkan prestasi. Setiap suporter berhak bermimpi. Setiap pertandingan memiliki makna bagi jutaan orang di seluruh dunia," lanjut pernyataan tersebut.
Ini adalah pertama kalinya Piala Dunia diperluas sejak format 24 tim berubah menjadi 32 pada 1998. BBC Sport telah menghubungi UEFA untuk meminta tanggapan terkait protes ini.