SUMATERA UTARA — Uji coba B50—campuran 50 persen biodiesel berbasis kelapa sawit dengan 50 persen solar—dilakukan pada satu rangkaian kereta di jalur Jawa. KAI menargetkan seluruh armada diesel beralih ke B50 secara bertahap hingga akhir 2025.
Selama ini KAI menggunakan B30 dan sebagian B35 untuk lokomotif diesel. B50 menawarkan kandungan energi terbarukan lebih tinggi, yang secara langsung menurunkan emisi gas rumah kaca. "Kami ingin menjadi pionir di sektor transportasi publik dalam adopsi bahan bakar hijau," ujar Direktur Utama KAI, Didiek Hartantyo, dalam keterangan resmi, Senin (15/4).
Uji coba ini juga sejalan dengan target pemerintah mencapai net zero emission pada 2060. KAI mencatat konsumsi solar tahun lalu mencapai 450 juta liter—angka yang signifikan untuk dikurangi.
Bagi penumpang, peralihan ke B50 tidak akan mengubah tarif tiket. KAI memastikan uji coba ini tidak berdampak pada harga tiket karena subsidi energi dari pemerintah masih berlaku untuk BBM tertentu. Namun, efisiensi jangka panjang diharapkan menekan biaya operasional perusahaan.
Dari sisi lingkungan, pengurangan emisi setara dengan menanam 1,2 juta pohon per tahun jika seluruh armada beralih ke B50. Angka ini dihitung berdasarkan proyeksi KAI bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
KAI mengakui ada sejumlah tantangan teknis, seperti penyesuaian mesin dan ketahanan komponen terhadap kandungan biodiesel tinggi. Namun, perusahaan telah bekerja sama dengan Pertamina sebagai pemasok B50 dan PT INKA untuk modifikasi lokomotif.
"Kami sudah lakukan simulasi selama enam bulan. Hasilnya, performa mesin tetap stabil dan konsumsi bahan bakar tidak membengkak," tambah Didiek.
Uji coba tahap pertama berlangsung selama tiga bulan di Depo Lokomotif Yogyakarta. Jika lolos, KAI akan memperluas ke seluruh Pulau Jawa pada kuartal III 2025. Langkah ini menjadikan KAI sebagai BUMN transportasi pertama yang mengadopsi B50 secara massal.