SUMATERA UTARA — Pasar saham domestik sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir, namun keputusan Bank Indonesia menyesuaikan suku bunga acuan pada 9 Juni lalu menjadi titik balik. Hasilnya, IHSG langsung terkoreksi naik dan menembus level psikologis 6.000 pada sesi pertama perdagangan Jumat kemarin.
Saham-saham BUMN mencatatkan akumulasi beli yang signifikan. Sektor pertambangan misalnya, mencatat kenaikan hingga 7 persen. Investor melihat ketahanan fundamental perusahaan-perusahaan negara sebagai katalis utama di tengah ketidakpastian global.
“Kami sangat bersyukur dan mengapresiasi kinerja positif IHSG yang hari ini berhasil kembali menembus level 6.000. Terima kasih kepada seluruh pelaku pasar yang terus menaruh kepercayaan pada saham-saham BUMN,” ujar Dony Oskaria, COO Danantara yang juga menjabat Kepala BP BUMN, dalam keterangan resmi, Jumat (12/6).
Dony menilai dominasi saham BUMN dalam mendorong laju IHSG bukanlah kebetulan. Hasil transformasi bisnis dan penguatan fundamental di tubuh perusahaan pelat merah mulai direspons positif oleh investor.
“Momentum positif ini menandakan bahwa kebijakan yang sedang dijalankan berada di jalur yang tepat. Iklim investasi yang stabil adalah kunci untuk menarik kemitraan strategis bernilai tinggi,” ungkapnya.
Pemerintah pun bergerak cepat menjaga stabilitas. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan fundamental ekonomi Indonesia, khususnya sektor perbankan seperti BRI dan Himbara, masih kuat menghadapi tantangan global.
“Kami berterima kasih kepada seluruh pihak, termasuk jajaran di Himbara, Taspen, BPJS, dan INA yang terus berkoordinasi. Kita akan terus bekerja keras mengatasi tantangan ekonomi demi menciptakan kondisi yang stabil,” pungkas Prasetyo.
Kenaikan IHSG kemarin menjadi sinyal bahwa langkah taktis BI menurunkan suku bunga ke 5,50 persen berhasil memulihkan kepercayaan. Dony menambahkan, momentum ini harus dijaga agar stabilitas pasar keuangan berkelanjutan dan minat investasi jangka panjang terus meningkat.
Dengan koordinasi erat antara pemerintah, bank sentral, dan lembaga investasi negara seperti INA, pasar modal Indonesia menunjukkan resiliensi di tengah tekanan eksternal. Investor kini menantikan konsistensi kebijakan ke depan untuk mempertahankan laju positif ini.