PARAPAT — Rapat Koordinasi Nasional FORKAPPSI tahun ini mengusung tema “Kolaborasi Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk Mencegah dan Mengatasi Inflasi melalui Peningkatan Kerja Sama Daerah dalam Bidang Penyediaan Bahan Pangan”. Bobby Nasution menekankan bahwa era sekarang tidak memungkinkan daerah bekerja sendiri-sendiri.
“Di zaman sekarang, berdiri sendiri-sendiri itu berat. Kita harus berkolaborasi, bukan hanya secara internal daerah, tetapi juga bersama daerah lain,” kata Bobby dalam sambutannya di Aula Mes Pora-Pora, Parapat.
Bobby meminta setiap kepala badan penghubung provinsi mendorong lahirnya setidaknya dua hingga tiga kerja sama konkret antardaerah. Kerja sama ini harus berdampak langsung terhadap pemenuhan kebutuhan pangan dan pengendalian inflasi.
Ia mencontohkan komoditas cabai merah yang kerap menjadi pemicu inflasi. Menurutnya, stabilitas pasokan dan harga komoditas semacam itu hanya bisa dijaga lewat pola kerja sama lintas provinsi yang terencana.
Selain sektor pangan, Bobby juga mendorong penguatan kerja sama antar Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), termasuk bank pembangunan daerah. Ia menilai kolaborasi antarbank daerah dapat menjadi kekuatan ekonomi baru yang mampu mendukung pembiayaan pembangunan di berbagai daerah.
“Kerja sama antar BUMD, termasuk bank pembangunan daerah, bisa menjadi sumber pembiayaan yang kuat untuk program-program strategis daerah,” ujarnya.
Ketua FORKAPPSI Indonesia yang juga Kepala Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di Jakarta, Ichsanul Arifin Siregar, mengatakan Rakornas ini merupakan agenda tahunan. Tahun 2026, Sumatera Utara dipercaya menjadi tuan rumah.
Kegiatan yang berlangsung pada 11–13 Juni 2026 ini diikuti 117 peserta. Mereka terdiri dari perwakilan 17 badan penghubung provinsi dan sekitar 100 pejabat pengawas di lingkungan badan penghubung pemerintah provinsi se-Indonesia.
Ichsanul berharap Rakornas FORKAPPSI menjadi wadah bagi peserta untuk berbagi pengalaman, memperkuat koordinasi, serta menyusun langkah kolaboratif. Tujuannya meningkatkan efektivitas pemantauan ketersediaan pangan di daerah.