Konsep "vibe coding" bukan lagi sekadar iseng untuk proyek pribadi. Dalam sebuah analisis mendalam di Thurrott.com, jurnalis teknologi Paul Thurrott menulis bahwa tahun 2026 akan dikenang sebagai momen ketika metode ini benar-benar menjadi nyata dan masif.
Dulu, Netscape dianggap revolusioner karena merilis produk perangkat lunak setiap minggu, bukan setiap dua hingga tiga tahun seperti Microsoft. Kini, kecepatan itu terasa lamban. Banyak aplikasi yang dipakai sehari-hari diperbarui beberapa kali seminggu.
AI mengambil lompatan ini ke level lain. "Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa AI berkembang secara eksponensial lebih cepat dari teknologi sebelumnya," tulis Thurrott. Sementara Apple dan Google masih mempromosikan fitur tata letak dinamis yang sudah dijanjikan sejak era Microsoft Longhorn dua dekade lalu, AI justru memungkinkan apa pun yang bisa dibayangkan untuk langsung diwujudkan.
Thurrott menceritakan pengalamannya membuat aplikasi .NETpad dan WinUIpad. Versi-versi sebelumnya memakan waktu berbulan-bulan penuh perjuangan. Namun dalam beberapa bulan terakhir, ia menggunakan AI untuk menyelesaikan versi terbaru aplikasi tersebut — dan bahkan menciptakan versi yang sepenuhnya baru.
Inilah inti dari vibe coding: pengguna cukup mendeskripsikan apa yang ingin dibuat dengan bahasa sehari-hari, dan AI yang menuliskan kodenya. Hasilnya, orang tanpa latar belakang pemrograman pun bisa membuat aplikasi fungsional.
Tidak semua orang terkesima. Para pengembang senior dan pakar teknis mencemaskan bahwa kode yang dihasilkan AI tidak akan pernah sekuat dan semudah dirawat seperti kode buatan manusia untuk aplikasi profesional berskala besar.
Thurrott menanggapi skeptisisme ini dengan sinis: "Lucu sekali." Menurutnya, dalam dunia AI yang bergerak dalam hitungan hari atau minggu — bukan bulan atau tahun — kekhawatiran itu akan segera terhapus oleh kenyataan.
Dampak vibe coding tidak terbatas pada pengembang. Thurrott mengibaratkannya dengan evolusi menulis: dari arang di dinding gua, ke kertas, mesin ketik, hingga aplikasi catatan di ponsel. Setiap langkah memperluas kemampuan manusia untuk berbagi ide.
AI melakukan hal yang sama, tetapi lebih cepat. Bahkan keterampilan menulis — yang dulu dianggap tidak penting bagi sebagian orang — kini menjadi esensial di era pesan teks dan media sosial. Fitur koreksi tata bahasa dan ejaan otomatis di perangkat bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan dasar.
Bagi pengguna di Indonesia, tren ini membuka akses yang belum pernah ada sebelumnya. Tidak perlu jago coding atau punya modal besar untuk membuat aplikasi. Cukup dengan perangkat Apple dan ide yang jelas, siapa pun bisa menjadi kreator. Dan seperti kata Thurrott, jika hari ini sesuatu belum bisa dilakukan, tunggu saja beberapa hari lagi.