38 Orang Tewas Akibat Gempa Filipina, Satu Keluarga Tertimbun Longsor di Kepulauan Balut

Penulis: Mukhtar Latif  •  Rabu, 10 Juni 2026 | 10:43:01 WIB
Gempa di General Santos, Filipina, menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas umum dan mengakibatkan 38 korban jiwa.

SUMATERA UTARA — Gempa yang terjadi bertepatan dengan hari pertama masuk sekolah itu memporak-porandakan Kota General Santos yang berpenduduk 700.000 jiwa. Lima bangunan sekolah, jembatan, jalan raya, kantor pemerintah, pasar, dan toko dilaporkan mengalami kerusakan parah. Administrator Kantor Pertahanan Sipil Filipina, Harold Cabreros, menyatakan ribuan warga kini ditampung di 44 pusat pengungsian, sementara sebagian lainnya memilih tidur di luar ruangan karena takut akan gempa susulan.

Kisah Randy Bacag: Empat Anggota Keluarga Terkubur Longsor

Di balik angka-angka korban, terdapat tragedi kemanusiaan yang mendalam. Randy Bacag (23), warga Kepulauan Balut di selatan General Santos, kehilangan empat anggota keluarganya sekaligus. Ibunya, Amie Bagan Bacag (42), tertimbun longsoran batu saat berlari menyelamatkan cucunya yang sedang bermain di samping rumah.

"Saya hanya berharap kami masih bisa mengevakuasi mayat-mayat tersebut meskipun hanya tinggal jenazahnya saja," ujar Randy dengan nada pasrah kepada Kompas.com, Selasa (9/6/2026). Hingga lebih dari 24 jam berlalu, jasad Amie, cucunya Tresia Dalaman (6), sepupu Tresia Brian John Mangayao (6), dan nenek buyut Pilar Singcag (62) belum bisa dievakuasi.

Randy menceritakan, ayahnya yang menyaksikan langsung longsoran tersebut mengubur keluarganya kini mengalami trauma berat. "Rasanya seperti ada sesuatu yang mati di dalam dirinya," kata Randy menggambarkan kondisi psikologis ayahnya yang berubah drastis.

Harapan di Tengah Puing: Tanda-Tanda Kehidupan dari Reruntuhan Supermarket

Kisah lain datang dari Allan Angcad (66), warga General Santos yang masih menanti kabar putrinya, Babylyn Angcad (28). Babylyn, yang baru seminggu bekerja sebagai manajer di supermarket Savemore, menjadi salah satu dari dua orang yang dilaporkan hilang di toko tersebut.

"Saudara-saudaranya bergegas ke sini. Kami semua mencoba menghubunginya, tetapi tidak ada tanggapan," kata Allan. Meski komunikasi terputus, ia mengaku sedikit bernapas lega setelah mendapat informasi dari tim penyelamat. "Ada tanda-tanda kehidupan," tuturnya dalam wawancara telepon.

Akses Terisolasi, Tim SAR Kekurangan Alat Berat

Proses evakuasi di wilayah pedesaan Kepulauan Balut berjalan sangat lambat. Pejabat pemerintah setempat, Vivian Bulabos, mengungkapkan akses menuju pelabuhan mengalami kerusakan parah, sementara wilayah tersebut hanya bisa dijangkau menggunakan perahu. Beberapa korban luka terpaksa dievakuasi melalui jalur udara menggunakan helikopter ke daratan utama.

"Kami membutuhkan ekskavator untuk mengevakuasi jenazah, tetapi peralatan tersebut tidak tersedia," jelas Vivian. Kondisi ini diperparah dengan lumpuhnya jaringan komunikasi. Wilayah yang dihuni sekitar 700 kepala keluarga itu kini hanya memiliki satu koneksi internet yang masih berfungsi, membuat koordinasi bantuan semakin sulit.

Reporter: Mukhtar Latif
Back to top