MEDAN — Prakirawan BMKG Wilayah I, Nensy Nindy, menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini dipicu oleh beberapa fenomena atmosfer yang terjadi bersamaan. Sirkulasi siklonik yang terpantau di Samudera Hindia, barat Sumatera, serta adanya belokan angin membentuk daerah konvergensi dan konfluensi. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan pasokan uap air dan mendukung pertumbuhan awan hujan di Sumatera Utara.
"Pada skala lokal, kondisi labilitas atmosfer juga terpantau cukup kuat, sehingga turut mendukung proses konvektif," kata Nensy Nindy di Medan, Senin.
BMKG meminta kewaspadaan ekstra bagi masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah yang diprediksi akan mengalami peningkatan curah hujan. Intensitas hujan yang diprakirakan terjadi adalah sedang hingga sangat lebat. Berikut daftar daerah yang perlu diwaspadai:
Fenomena ini merupakan dampak dari dinamika atmosfer yang masih signifikan. Menurut BMKG, keberadaan sirkulasi siklonik dan belokan angin menciptakan zona pertemuan massa udara (konvergensi) yang sangat efektif dalam membentuk awan-awan hujan yang tebal. Proses konvektif yang kuat di atmosfer lokal Sumatera Utara semakin memperparah potensi terjadinya hujan lebat secara tiba-tiba.
Dengan kondisi ini, BMKG mengimbau seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), hingga masyarakat umum, untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Potensi terjadinya genangan, banjir, tanah longsor, serta pohon tumbang akibat angin kencang perlu diantisipasi sejak dini.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak panik, namun tetap waspada. Hindari berteduh di bawah pohon besar saat hujan disertai petir, dan selalu pantau informasi cuaca terkini dari kanal resmi BMKG," pungkas Nensy Nindy.