PEMATANGSIANTAR — Rakernas P3BP yang digelar di Kota Pematangsiantar tidak hanya sekadar forum rutin tahunan. Pertemuan ini menjadi titik penting bagi organisasi untuk menyusun peta jalan pelestarian budaya Batak dan budaya lokal lainnya di Sumatera Utara, khususnya di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap tradisi.
Salah satu isu krusial yang mengemuka dalam rakernas adalah minimnya keterlibatan anak muda dalam kegiatan pelestarian budaya. P3BP menilai, banyak sanggar dan komunitas adat di Pematangsiantar dan sekitarnya yang kesulitan mencari kader penerus. "Kami harus mencari cara agar budaya Batak tidak hanya menjadi tontonan, tapi juga bagian dari keseharian generasi milenial dan Gen Z," ujar salah satu pengurus inti P3BP dalam forum tertutup.
Organisasi ini berencana mendorong pendokumentasian digital untuk kesenian tradisional seperti tortor, margondang, dan aksara Batak. Langkah ini dinilai lebih relevan dengan kebiasaan konsumsi konten generasi muda yang akrab dengan gawai.
Pematangsiantar dikenal sebagai salah satu kota multi-etnis di Sumatera Utara, dengan akar budaya Batak Simalungun yang kuat. Namun, dalam satu dekade terakhir, banyak ritual adat dan bahasa daerah mulai jarang dipraktikkan di ruang publik. P3BP melihat rakernas ini sebagai momentum untuk mengembalikan posisi budaya sebagai identitas kota, bukan sekadar atraksi wisata.
Selain aspek pelestarian, rakernas juga membahas penguatan organisasi di tingkat akar rumput. P3BP ingin memperbanyak jumlah pengurus di tingkat kecamatan dan kelurahan agar program-program budaya bisa menjangkau hingga ke kampung-kampung.
Keputusan yang dihasilkan dalam rakernas ini akan langsung berdampak pada puluhan sanggar seni dan komunitas adat di Pematangsiantar. Beberapa program kerja yang direncanakan antara lain festival budaya tahunan, pelatihan bahasa daerah untuk pemula, serta pendirian pusat dokumentasi budaya berbasis digital.
P3BP juga berencana menjalin kerja sama dengan Dinas Pendidikan setempat untuk memasukkan muatan lokal budaya Batak ke dalam kurikulum ekstrakurikuler sekolah. Langkah ini diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang untuk regenerasi pegiat budaya.
Q: Apa fokus utama Rakernas P3BP di Pematangsiantar?
A: Rakernas kali ini fokus pada penguatan struktur organisasi di daerah, regenerasi pegiat budaya muda, serta digitalisasi dokumentasi kesenian tradisional Batak.
Q: Mengapa pelestarian budaya di Pematangsiantar butuh perhatian khusus?
A: Pematangsiantar memiliki kekayaan budaya Batak Simalungun yang mulai tergerus modernisasi. Minimnya regenerasi dan dokumentasi menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan tradisi lokal.