SUMATERA UTARA — Gerakan Belida tidak hanya menyasar pada pembersihan fisik saluran air, tetapi juga mengajak partisipasi aktif masyarakat untuk menjaga lingkungan. Langkah ini diambil sebagai respons cepat terhadap prediksi cuaca ekstrem yang masih berpotensi melanda wilayah Sumatera Selatan dalam beberapa pekan ke depan.
Dalam pelaksanaannya, Polres OKU mengerahkan personel untuk turun langsung membersihkan sedimentasi dan sampah yang menyumbat drainase di titik-titik rawan genangan. Selain itu, normalisasi alur sungai dilakukan untuk memastikan kapasitas tampung air tetap optimal saat debit air meningkat.
“Ini gerakan bersama. Kami tidak bisa bekerja sendiri. Peran serta warga untuk tidak membuang sampah ke sungai dan saluran air menjadi kunci utama,” ujar Kapolres OKU, AKBP Imam Safi’i, dalam keterangan resmi yang diterima di Baturaja.
Gerakan Belida merupakan bagian dari kesiapsiagaan menghadapi puncak musim hujan yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terjadi pada akhir tahun ini. Data dari BPBD OKU mencatat, setidaknya ada lima kecamatan yang masuk kategori rawan banjir akibat luapan sungai dan drainase yang tidak berfungsi maksimal.
Polres OKU menargetkan pembersihan di titik-titik prioritas dapat rampung dalam dua pekan ke depan. “Kami ingin genangan air yang biasanya terjadi di beberapa ruas jalan utama tidak sampai mengganggu aktivitas warga,” tambah AKBP Imam Safi’i.
Selain aksi fisik, program ini juga menyasar aspek edukasi. Polres OKU menggandeng tokoh masyarakat dan pemuda untuk menjadi agen perubahan dalam menjaga kebersihan lingkungan. Langkah ini dinilai lebih berkelanjutan ketimbang hanya mengandalkan operasi pembersihan musiman.
“Kami tidak ingin kerja keras ini sia-sia. Kesadaran warga untuk tidak merusak ekosistem sungai adalah investasi jangka panjang agar OKU terbebas dari banjir,” pungkasnya. Diharapkan, gerakan ini dapat menjadi model bagi daerah lain dalam mengelola risiko bencana hidrometeorologi secara partisipatif.