JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah belum juga mereda. Pada pembukaan perdagangan pagi ini pukul 09.00 WIB, berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda tercatat melemah 54 poin dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Angka ini mendekati level psikologis Rp17.900 per dolar AS.
Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Hampir seluruh mata uang di kawasan Asia terpantau kompak melemah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia turun 0,24 persen, dolar Singapura melemah 0,16 persen, dan yen Jepang terkoreksi tipis 0,04 persen. Yuan China juga tak luput dari tekanan dengan penurunan 0,05 persen.
Hanya dolar Hong Kong yang mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,03 persen di tengah laju dolar AS yang agresif. Di negara maju, euro Eropa turun 0,13 persen dan poundsterling Inggris melemah 0,19 persen terhadap greenback.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa aksi jual rupiah pagi ini dipicu oleh sentimen geopolitik yang memanas. "Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat menyusul berita penyerangan terbaru AS ke Iran, memperumit prospek harapan pada perdamaian di Timur Tengah," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Menurutnya, ketidakpastian akibat konflik tersebut mendorong investor global untuk berlindung di aset safe haven, yaitu dolar AS. Akibatnya, mata uang negara berkembang seperti Indonesia menjadi yang pertama kali terdepresiasi.
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan berada dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS. Ia menambahkan, volatilitas masih berpotensi tinggi mengingat belum ada tanda-tanda de-eskalasi konflik dalam waktu dekat.
Pelaku pasar dan pelaku usaha di Indonesia pun diminta mewaspadai fluktuasi ini, terutama bagi mereka yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS dalam waktu dekat. Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut hingga ada kejelasan situasi di Timur Tengah.