MEDAN — Operasi pasar menyediakan 3 ton daging ayam pada hari pertama, dengan rincian 2 ton di Pasar Sei Sikambing dan 1 ton di Pasar Petisah. Pedagang membeli ayam dari produsen seharga Rp38.000 per kilogram, lalu menjualnya ke masyarakat Rp40.000 per kilogram.
Ketua APPSI Sumut, Ihwan Ritonga, menyatakan operasi pasar merupakan tindak lanjut dari hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) soal tingginya harga daging ayam di Sumatera Utara. Ia menempuh intervensi harga dengan memangkas rantai distribusi dari produsen hingga pedagang.
Rantai Distribusi Jadi Penyebab Harga Ayam Melambung
Ihwan menilai panjangnya rantai distribusi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingginya harga ayam. Rantai itu membentang dari peternak, produsen, pengepul, agen, hingga pedagang.
Ia juga menyebut kenaikan harga ayam bukan disebabkan oleh Program Makan Bergizi Gratis (MBG). "Ini menjadi perhatian kami bersama Pemprov Sumut, Satgas Pangan dan Kepolisian untuk memonitor harga di pasaran," kata Ihwan.
Pedagang Sebut Pembeli Lebih Mudah Beli di Harga Rp40.000
Pedagang ayam di Pasar Petisah, Supri, mengaku terbantu dengan operasi pasar tersebut. Ia biasanya menjual eceran sekitar Rp47.000 per kilogram. "Dengan harga Rp40.000 ini jelas akan membuat pembeli lebih mudah membeli," ujar Supri.
13 Pasar Jadi Target Perluasan Operasi Pasar
APPSI Sumut masih memulai operasi di dua pasar, dengan target berkembang hingga 13 pasar. Ihwan menyampaikan hal itu saat meninjau pembukaan operasi pasar di area basemen Pasar Petisah, didampingi Wakil Ketua DPW APPSI Sumut, Suwarno.
Sejumlah pasar yang masuk rencana perluasan meliputi Pusat Pasar, Pasar Sukaramai, Pasar Bakti, Pasar Halat, Pasar Kampung Lalang, Pasar Simpang Limun, Pasar Pulo Brayan, Pasar Titi Kuning, Pasar Simalingkar, Pasar Tanjung Rejo, dan Pasar Sentosa.
Operasi pasar di Pasar Petisah dan Pasar Sei Sikambing menjadi langkah awal APPSI Sumut bersama Pemprov Sumut menstabilkan harga daging ayam di pasaran.