Pencarian

IHSG Tembus 6.500 pada Perdagangan Kamis, Saham Tambang AMMN dan BRMS Pimpin Penguatan

Jumat, 21 Agustus 2026 • 13:46:01 WIB
IHSG Tembus 6.500 pada Perdagangan Kamis, Saham Tambang AMMN dan BRMS Pimpin Penguatan
IHSG ditutup menguat 1,68% ke level 6.501,58 pada perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,68% ke level 6.501,58 pada perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026, didorong aksi beli di sektor pertambangan dan komoditas. Penguatan ini sejalan dengan memburuknya imbal hasil obligasi pemerintah AS yang meningkatkan selera risiko investor global. Sebanyak 452 saham tercatat menghijau, sementara 190 saham melemah dan 150 saham stagnan.

JAKARTA — Pasar modal Indonesia mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melesat 1,68% ke posisi 6.501,58, menembus level psikologis 6.500 yang sebelumnya menjadi resistensi kuat.

Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak dinamis dalam rentang 6.444,39 hingga 6.514,67. Kapitalisasi pasar bursa domestik ikut membengkak menjadi sekitar Rp11.444 triliun, mencerminkan optimisme investor terhadap aset berisiko di kawasan Asia.

Saham Tambang Jadi Motor Penggerak Utama

Lonjakan IHSG tidak lepas dari kinerja gemilang emiten pertambangan. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) melonjak 7,97% ke level Rp4.470 per saham, menjadi salah satu kontributor terbesar penguatan indeks.

PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) bahkan mencatatkan kenaikan lebih tajam, yakni 9,60% ke posisi Rp685. Adapun saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) menguat 4,40% menjadi Rp190 per saham.

Di luar sektor tambang, saham PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) menjadi primadona dengan melonjak 24,85% ke level Rp206. Saham bank pelat merah, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), juga turut menghijau dengan naik 1,59% ke level Rp6.400.

Meredanya Imbal Hasil Obligasi AS Picu Aksi Borong Saham

Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menilai penguatan bursa Asia merupakan respons positif atas pergerakan Wall Street yang solid. Investor kini cenderung mengesampingkan risalah The Fed yang mengindikasikan semakin banyak pejabat bank sentral AS mendukung kenaikan suku bunga pada pertemuan sebelumnya.

Fokus pasar justru tertuju pada penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Langkah Departemen Keuangan AS yang berencana meningkatkan pembelian kembali surat utang secara signifikan dinilai mampu meredakan kekhawatiran akan kenaikan biaya pinjaman global.

Kondisi ini mendorong aliran dana kembali mengalir ke aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang seperti Indonesia.

Kebijakan Bank Indonesia dan China Jadi Pemicu Tambahan

Dari Asia, investor juga mencermati keputusan bank sentral China yang kembali mempertahankan suku bunga acuan pada level terendah sepanjang masa. Langkah ini memberikan stimulus tambahan bagi perekonomian Negeri Tirai Bambu yang berimbas positif ke sentimen pasar regional.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memilih untuk menahan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas rupiah di tengah meningkatnya volatilitas pasar global. Kebijakan ini diarahkan untuk mengendalikan inflasi sesuai sasaran serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

BI juga berencana memperluas skema insentif lindung nilai untuk menarik arus modal asing masuk ke pasar keuangan domestik. Namun, ketidakpastian geopolitik dan eskalasi konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang membayangi pergerakan pasar ke depan.

Follow monitorsumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: digtara.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks