SUMATERA UTARA — Proses merger dan restrukturisasi PT PP (Persero) Tbk akhirnya mulai menemui titik terang. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa skema penggabungan usaha ini akan dijalankan lebih dulu sebelum masuk ke tahap penataan keuangan yang lebih dalam.
“Perlu intens untuk restrukturisasi dan merger. Merger dulu, baru restrukturisasi. Kita merger-in saja,” ujar Dony dalam keterangan resminya, Jumat (21/8/2026).
Dony menekankan bahwa transformasi perusahaan konstruksi pelat merah ini harus tuntas dan tidak berlarut-larut. Ia menginginkan adanya kepastian dalam penyerapan aset maupun koreksi pembukuan agar peta kondisi keuangan perusahaan menjadi jelas dan transparan.
Utang Ratusan Triliun dan 20 Entitas Anak yang Ikut Bermasalah
Persoalan yang dihadapi BUMN Karya tidaklah sederhana. Dony mengungkapkan bahwa liabilitas atau utang perusahaan-perusahaan karya sangat besar, bahkan mencapai ratusan triliun rupiah secara agregat. Yang lebih rumit, masalah tersebut tidak hanya berhenti di tingkat holding, melainkan menjalar hingga ke anak dan cucu perusahaan.
“Di masing-masing karya itu punya anak lagi kan. Ada cucu. Semuanya bermasalah juga. Jadi kita mesti bereskan itu one by one, satu per satu, satu per satu. Inilah yang memakan waktu,” jelasnya di Kompleks Parlemen, Rabu (19/8/2026).
Setiap BUMN Karya rata-rata memiliki hingga 20 entitas anak-cucu usaha. Kondisi ini membuat proses pembenahan tata kelola menjadi panjang dan kompleks. Dony mengakui bahwa penyelesaian secara instan sebenarnya bisa dilakukan, misalnya dengan mempailitkan perusahaan, namun dampaknya terhadap ekosistem industri lain perlu dipertimbangkan secara hati-hati.
Urutan Skema: Benahi Buku Dulu, Baru Merger
Sebelum masuk ke tahap merger, Danantara akan memulai dengan penataan kondisi keuangan PT PP secara menyeluruh. Penyesuaian dan koreksi laporan keuangan menjadi langkah awal yang krusial untuk memastikan posisi perusahaan terpetakan secara akurat.
Setelah itu, barulah dilakukan restrukturisasi perusahaan. Langkah ini diarahkan agar PT PP memiliki struktur bisnis yang lebih fokus dan mampu mengoptimalkan potensi pada segmen usaha inti yang memiliki prospek pertumbuhan. Dengan skala usaha yang lebih besar hasil penggabungan sumber daya, efisiensi operasional diharapkan meningkat dan daya saing BUMN Karya menguat.
“Kita harus tahu berapa yang harus di-absorb, berapa yang perlu dikoreksi di buku. Tapi harus tuntas, saya gak mau nanti ditunda-tunda,” tegas Kepala Badan Pengaturan BUMN tersebut.
Target Rampung di Akhir 2026
Dony belum berani memastikan seluruh masalah BUMN Karya akan beres tahun ini. Namun, BP BUMN dan Danantara sepakat mengupayakan agar persoalan tersebut selesai di penghujung 2026.
“Ini saya enggak bisa pastikan, karena berproses terus. Saya tetap mengupayakan akhir tahun ini sudah selesai. Tetapi dinamika di dalam menyelesaikan ini kan cukup rumit. Teman-teman juga tentu tahu ada yang LRT, nanti ada lagi yang WIKA Realty, ada ini segala macam,” tuturnya.
Pembenahan yang dilakukan satu per satu ini diharapkan menjadi solusi permanen agar masalah serupa tidak kembali muncul di kemudian hari. Fondasi perusahaan yang lebih sehat dan berkelanjutan menjadi target utama dari rangkaian transformasi PTPP dan BUMN Karya lainnya.