MEDAN — PT PP (Persero) Tbk mengerjakan penanganan darurat 31 titik longsor di dua ruas jalan utama Sumatera Utara dengan nilai kontrak Rp268,66 miliar. Cakupan pekerjaan membentang 131 kilometer, dari Batas Aceh hingga Kota Sibolga serta ruas Rampa–Poriaha/Mungkur.
Capaian 70,83 persen itu melampaui rencana sebesar 68,42 persen. Kedua ruas tersebut berfungsi sebagai jalur penghubung utama warga dan distribusi logistik di kawasan barat Sumatera Utara.
Ruas Mana Saja yang Ditangani
Pekerjaan difokuskan pada dua koridor. Pertama, ruas Batas Aceh–Kota Sibolga yang menjadi pintu masuk barang dari arah utara. Kedua, ruas Rampa–Poriaha/Mungkur yang menghubungkan kawasan pesisir dengan wilayah pedalaman.
Longsor di sejumlah titik membuat fungsi jalan terganggu. Pemulihan diarahkan agar keselamatan pengguna jalan terjaga, mobilitas warga kembali normal, dan distribusi logistik tidak tersendat.
Mengapa Progres Bisa Melampaui Rencana
Corporate Secretary PTPP Joko Raharjo menyatakan penanganan infrastruktur jalan pascabencana membutuhkan perencanaan matang serta metode konstruksi yang sesuai kondisi lapangan. Perseroan mengklaim penerapan teknologi survei dan pemetaan menjadi salah satu kunci.
"Penerapan teknologi survei dan pemetaan serta metode penanganan yang sesuai dengan kondisi lapangan menjadi bagian dari upaya kami untuk menjaga kualitas pekerjaan, keselamatan kerja, dan ketepatan pelaksanaan," ujar Joko dalam keterangan resmi yang dikutip Minggu (25/10/2026).
Metode yang disesuaikan dengan kontur lereng rawan longsor disebut membuat pekerjaan berjalan lebih cepat dari jadwal. Perseroan tidak merinci titik mana yang paling banyak menyerap anggaran.
Dampak bagi Warga dan Pasokan Barang
Akses yang sempat terputus akibat longsor membuat perjalanan warga dan pengiriman barang terhambat. Di sejumlah titik, kendaraan harus memutar atau menunggu perbaikan badan jalan.
Kelancaran distribusi logistik menjadi kunci bagi perekonomian kawasan, terutama pasokan barang kebutuhan pokok antarwilayah. Dengan progres yang sudah melewati target, fungsi jalan diharapkan segera pulih sepenuhnya.
PTPP menyebut proyek ini menambah rekam jejak penanganan infrastruktur pascabencana, sektor yang menuntut kecepatan eksekusi tanpa mengorbankan mutu dan keselamatan kerja. Perusahaan belum menyebut tanggal pasti perampungan seluruh titik longsor.