SUMATERA UTARA — Suporter Manchester City kembali membunyikan cemoohan saat lagu kebangsaan Premier League dan Liga Champions diputar sebelum kick-off di Etihad Stadium. Aksi boikot yang sudah berlangsung lama itu memuncak pada laga kandang pertama City sejak vonis bersalah melanggar aturan finansial Premier League dijatuhkan.
Ketidakpuasan suporter City terhadap otoritas liga bisa dilacak ke Februari 2023, saat 115 tuduhan pelanggaran aturan pertama kali diumumkan. Pada tahun yang sama, Everton menerima pengurangan 10 poin yang kemudian dikurangi menjadi enam poin di tingkat banding karena melanggar aturan profitabilitas dan keberlanjutan.
Dalam laga pertama Everton setelah sanksi, pendukung Toffees di Goodison Park membunyikan boo keras saat lagu liga diputar dan mengangkat kartu merah bertuliskan "corrupt" di bawah logo Premier League. Meski suporter City tidak menggelar aksi serupa, kemarahan mereka tetap terlihat jelas.
Pemegang tiket musiman City, Dave Wilson, menyebut cemoohan terhadap lagu Premier League sudah berlangsung bertahun-tahun. Menurutnya, aksi itu tidak pernah direncanakan dan murni bentuk kekecewaan yang menumpuk.
"Saya tidak ingat ada laga kandang Premier League atau Liga Champions di mana lagu kebangsaan tidak diboo," kata Wilson kepada BBC Sport. "Lagu Premier League sudah diboo suporter City selama bertahun-tahun. Mungkin lebih kencang pada Sabtu karena itu laga kandang pertama sejak pengumuman vonis."
"Tidak banyak rasa sayang yang tersisa antara City dan Premier League sejak lama. Untuk laga tertentu suaranya lebih keras, dan itu jelas tidak terkoordinasi untuk laga Ipswich, tapi gejala dari semua hal yang menumpuk bersamaan."
Ketidaksukaan suporter City terhadap UEFA bahkan berakar lebih dalam. Pada 2012, Porto didenda sekitar 17.000 poundsterling oleh UEFA setelah City melaporkan dugaan pelecehan rasial terhadap striker Mario Balotelli. Di musim yang sama, City juga didenda sekitar 24.000 poundsterling karena terlambat satu menit kembali ke lapangan pada babak kedua laga melawan Sporting.
Pada 2014, UEFA mendenda City 49 juta poundsterling dan membatasi ukuran skuad Liga Champions setelah gagal memenuhi aturan Financial Fair Play. Enam tahun kemudian, Court of Arbitration for Sport membatalkan larangan dua tahun City dari kompetisi Eropa setelah membebaskan klub dari tuduhan "menyamarkan dana ekuitas sebagai kontribusi sponsor".
"Suporter City umumnya merasa ada konspirasi terhadap mereka, seperti halnya boikot lagu UEFA. Ada perasaan menjadi target, benar atau salah," ujar Wilson. "Suporter City sepertinya memang tidak menyukai kompetisi yang kami ikuti!"
City dan suporter saat ini berada dalam ketidakpastian menunggu hasil banding dan potensi sanksi. Di tengah situasi itu, skuad asuhan Pep Guardiola masih memuncaki klasemen dengan tujuh kemenangan dari tujuh laga liga, dan rekor sempurna itu akan diuji berat saat bertandang ke Aston Villa.
Nick Clarke, ketua sementara The Citizens Trust, serikat suporter City yang dibentuk tahun ini, menyebut boikot lagu pada Sabtu berlangsung organik. Menurutnya, mayoritas suporter tetap mendukung penuh tim meski ada perbedaan pandangan soal apa yang menimpa klub.
"Boo terhadap lagu kebangsaan pada Sabtu benar-benar organik," kata Clarke. "Meski ada suporter yang bimbang soal apa yang terjadi dengan klub, masih ada perasaan umum di mayoritas suporter City bahwa Premier League tidak layak mengatur dirinya sendiri dan cara liga dijalankan."
Apa pun hasil banding nanti, suporter City kemungkinan besar akan terus menyuarakan pendapat mereka sebelum kick-off.