SUMATERA UTARA — Direktur Kalbe Farma Kartika Setiabudy mengakui pihaknya masih menimbang dua jalur untuk memenuhi aturan anyar bursa tersebut. Perseroan bisa menambah porsi saham publik secara bertahap pada 2027 dan 2028, atau menempuh delisting jika penambahan itu sulit direalisasikan.
Kartika menyampaikan perhitungan internal tengah berjalan, sembari menjajaki opsi penambahan free float anak usaha. Kalbe Farma juga membuka diri terhadap masukan pelaku pasar selama tetap mengikuti tenggat waktu yang ditetapkan BEI.
"Jadi saat ini kami masih menjajaki kedua opsi tersebut dan tentunya kita akan comply dengan peraturan IDX sebagai kita merupakan bagian dari pasar modal Indonesia," kata Kartika dalam paparan publik 2026, Jumat (11/9).
Berdasarkan data pemegang saham 1% per 31 Agustus 2026, KLBF menguasai 2,49 miliar saham EPMT atau setara 91,98%. Porsi itu membuat ruang gerak untuk memenuhi free float 15% cukup sempit tanpa mengubah struktur kepemilikan secara signifikan.
Dua pemegang saham lain melengkapi komposisi tersebut:
BEI menaikkan ambang batas free float setiap emiten menjadi 15%, dari sebelumnya 7,5%. Aturan ini menyasar emiten dengan likuiditas tipis agar perdagangan sahamnya lebih sehat dan tidak mudah digerakkan oleh transaksi kecil.
Bagi EPMT, selisih antara posisi saat ini (7,51%) dan kewajiban baru (15%) setara dengan sekitar 203 juta lembar saham tambahan yang harus dilepas ke publik. Kalbe Farma belum memerinci mekanisme yang akan dipilih, apakah lewat penawaran umum terbatas, penjualan saham pemegang saham utama, atau opsi lain.
Di lantai bursa, saham EPMT ditutup naik 0,42% ke Rp 2.400 pada sesi pertama Jumat (11/9). Sahamnya diperdagangkan di rentang Rp 2.400–Rp 2.470 dengan volume 48,80 ribu lembar dan nilai transaksi Rp 119,50 juta.
Kapitalisasi pasar EPMT tercatat Rp 6,50 triliun. Dalam sebulan terakhir sahamnya menguat 1,69%, sementara dalam tiga bulan terakhir melonjak 6,67%.
Wacana delisting menjadi risiko tersendiri bagi pemegang saham minoritas. Jika opsi itu diambil, investor publik harus melepas sahamnya lewat mekanisme yang akan ditentukan dalam RUPS dan mengikuti aturan buyback atau tender wajib dari BEI.
Sebaliknya, jika Kalbe Farma memilih menambah free float, ada potensi likuiditas saham EPMT meningkat dan bobotnya di indeks bisa berubah. Skenario ini juga membuka peluang masuknya investor institusi baru ke jajaran pemegang saham.
Kalbe Farma sendiri belum merinci jadwal final keputusan. Perseroan menyatakan akan mengikuti seluruh ketentuan dan tenggat yang ditetapkan BEI. Investasi mengandung risiko.