SUMATERA UTARA — Ponsel ini adalah model keempat di bawah payung seri Galaxy S26, dan posisinya jelas: menjembatani mereka yang menginginkan pengalaman flagship tanpa harus membayar harga Ultra. MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, Ilham Indrawan, membeberkan enam peningkatan utama dalam acara peluncuran di Jakarta, Senin. Kami sudah merangkum mana yang benar-benar terasa signifikan dan mana yang sekadar penyegaran.
Samsung tidak mengubah konfigurasi kamera belakang—masih 50MP utama, 12MP ultrawide, dan 8MP telefoto. Justru di sinilah poin menariknya: peningkatan datang dari sisi perangkat lunak, bukan hardware.
Fitur MyFanCam yang tadinya eksklusif di Galaxy Z Fold8 kini tersedia di sini. Ini bukan gimmick—fitur ini memungkinkan kamera fokus pada satu objek di tengah keramaian, sangat relevan untuk pengguna yang sering memotret di konser. Ada juga Horizontal Lock yang pertama kali debut di seri Galaxy S26 awal 2026, menjaga video tetap stabil saat pengguna bergerak aktif.
Untuk kamera depan, sudut pandang melebar dari 80 derajat menjadi 85 derajat. Perubahan ini kecil di atas kertas, tapi langsung terasa saat swafoto bareng lebih dari dua orang—tidak perlu lagi merentangkan tangan sampai pegal.
Ini lompatan paling substansial. Dua generasi FE sebelumnya masih memakai arsitektur 4nm, tapi Galaxy S26 FE dibekali Exynos 2500—chip yang sama dengan Galaxy S25 dan S25+.
Ilham mengklaim performa AI meningkat 51 persen dibanding pendahulunya. Angka ini perlu diverifikasi lewat pengujian jangka panjang, tapi secara arsitektur, fabrikasi 3nm berarti efisiensi daya yang lebih baik—bukan cuma soal kecepatan mentah. Untuk penggunaan harian, ini biasanya berdampak pada suhu perangkat yang lebih adem saat multitasking berat.
Fakta yang jarang terjadi di industri: Galaxy S26 FE justru lebih dulu membawa Android 17 dan One UI 9.0 dibanding kakak-kakaknya—Galaxy S26, S26+, dan S26 Ultra—yang masih menunggu update. Ini keuntungan kompetitif yang jelas, setidaknya untuk enam bulan pertama kepemilikan.
Samsung juga mempertahankan komitmen jangka panjang: tujuh tahun pembaruan OS utama dan patch keamanan. Artinya, ponsel ini akan relevan hingga awal 2030-an.
Fitur AI unggulan seperti Now Brief, Now Nudge, Circle to Search 3.0, dan Gemini Live kini tersedia di kelas harga ini. Untuk pengguna Indonesia, Circle to Search tetap jadi yang paling praktis—cukup lingkari objek di layar, langsung muncul hasil pencarian.
Perubahan kecil yang menurut kami berdampak besar: transfer data kini cukup dengan memindai kode QR. Tidak perlu lagi mengunduh aplikasi Smart Switch secara manual. Prosesnya nirkabel dan jauh lebih sederhana untuk pengguna yang tidak terbiasa dengan teknis migrasi data.
Galaxy S26 FE mempertahankan bahasa desain minimalis seri Galaxy S26. Tersedia dalam warna Pistachio, Graphite, dan Blueberry. Untuk FE, ini penyegaran yang disambut baik—generasi sebelumnya terkesan "khas FE" dengan material yang sedikit berbeda. Kali ini, kesan premium lebih terasa di genggaman.
Galaxy S26 FE akhirnya keluar dari bayang-bayang "flagship murah" dengan membawa chip 3nm dan software terkini. Ini jelas ditujukan untuk pengguna yang ingin performa dan umur pakai panjang, tapi tidak butuh kamera zoom ekstrem atau pena S-Pen.
Kurang cocok untuk mereka yang prioritas utamanya fotografi zoom—kamera telefoto 8MP akan terasa terbatas. Tapi untuk daily driver yang gesit, tahan lama, dan selalu up-to-date, ponsel ini layak masuk daftar tunggu sampai harga resmi untuk pasar Indonesia diumumkan.