Jalur Alternatif Medan-Berastagi Disiapkan untuk Kendaraan Wisata, Ditargetkan Rampung 2029, Gubernur Sumut: Atasi Empat Titik Macet

Penulis: Syafruddin Amir  •  Kamis, 03 September 2026 | 13:11:01 WIB
Petugas memeriksa kesiapan ruas jalan alternatif Medan–Berastagi yang difokuskan bagi kendaraan wisata roda enam ke bawah.

MEDAN — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memetakan sejumlah ruas jalan di Deli Serdang dan Karo untuk dijadikan jalur alternatif Medan–Berastagi yang difokuskan khusus bagi kendaraan wisata roda enam ke bawah. Langkah ini diambil untuk mengurai kemacetan di jalur utama Jalan Jamin Ginting yang kerap terjadi menjelang akhir pekan dan libur nasional. Pengerjaan fisik ditargetkan dimulai pada 2027 dan rampung pada 2028–2029.

Kebijakan ini disampaikan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution usai menerima Ikatan Cendekiawan Karo di Berastagi, Kabupaten Karo, Rabu (18/6). Menurutnya, jalur alternatif ini tidak hanya akan memangkas waktu perjalanan wisatawan menuju Tanah Karo, tetapi juga dimaksudkan untuk meningkatkan keselamatan lalu lintas di rute utama.

"Sementara untuk jalur logistik, tetap kami arahkan melewati rute utama Jalan Jamin Ginting yang ada saat ini," kata Bobby.

Rute Alternatif dan Skema Pelebaran Jalan

Kepala Dinas Bina Marga, Bina Konstruksi, dan Cipta Karya Provinsi Sumut, Chandra Dalimunthe, memaparkan salah satu ruas yang akan diintervensi adalah pelebaran Medan–Namorambe–Sembahe. Kendaraan wisata yang melintas dari arah Medan akan diarahkan ke kiri di Simpang Poci, Jalan Jamin Ginting, untuk masuk ke rute alternatif tersebut.

Ruas jalan yang akan diintervensi memiliki status kepemilikan beragam, meliputi jalan negara, jalan provinsi, serta jalan kabupaten di Deli Serdang dan Karo. Pelebaran dilakukan dari empat meter menjadi enam hingga delapan meter. Skema ini diharapkan mampu menampung volume kendaraan pribadi yang menuju Berastagi sehingga beban Jalan Jamin Ginting berkurang signifikan.

Dorongan Jalan Tol dan Intervensi Fisik Jalan

Pemprov Sumut menyatakan pembangunan Jalan Tol Medan–Berastagi tetap akan didorong agar masuk dalam cetak biru perencanaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Namun, karena proses pembangunan jalan tol membutuhkan waktu panjang, pemerintah mengambil langkah cepat dengan mengintervensi ruas jalan eksisting yang tersebar di dua kabupaten tersebut.

"Target maksimal pengerjaan intervensi fisik ini mulai berjalan pada 2027 hingga selesai pada 2028–2029," ujar Gubernur Bobby Nasution.

Pembenahan Kawasan Wisata Berastagi dan Tahura

Selain infrastruktur jalan, Pemprov Sumut berencana melakukan intervensi kawasan wisata secara masif, khususnya di Taman Hutan Raya (Tahura) Berastagi dan Tugu Perjuangan Berastagi.

Gubernur Bobby menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membangun fasilitas komersial berskala besar, seperti mal atau hotel. Fokus utama adalah pembenahan infrastruktur dasar kawasan agar memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal, serupa dengan yang pernah dilakukan saat meremajakan kawasan Kota Lama Medan.

Respons Ikatan Cendekiawan Karo

Perwakilan Ikatan Cendekiawan Karo, Sukarya Sinulingga, menyambut positif rencana tersebut. Ia menilai skema jalur alternatif ini berpotensi mengatasi sedikitnya empat titik kemacetan yang selama ini menghambat mobilitas warga dan distribusi logistik dari Karo menuju Medan.

"Kami mengucapkan terima kasih atas nama masyarakat Karo, kami sangat gembira dengan kabar ini. Tentunya kami akan terus mendukung pembangunan ini," ucap Sukarya.

Berastagi merupakan kota wisata di dataran tinggi Karo yang berjarak sekitar 66 kilometer di selatan Kota Medan. Wilayah ini menawarkan pesona alam dengan udara sejuk serta pemandangan dua gunung berapi aktif, Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung, yang menjadi daya tarik utama wisatawan.

Reporter: Syafruddin Amir
Sumber: sumut.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top