BI Targetkan Seluruh Kantor Kas Kelola Limbah Uang Ramah Lingkungan pada 2030

Penulis: Hamzah Effendi  •  Senin, 17 Agustus 2026 | 18:31:01 WIB
Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali membuka Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (14/8).

SUMATERA UTARA — Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali mengungkapkan, inisiatif ini tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga menempatkan rupiah sebagai instrumen strategis perekonomian nasional. "Rupiah bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga menjadi instrumen strategis yang menggerakkan perekonomian, menghadirkan kesejahteraan, serta menjaga persatuan dan kedaulatan NKRI," ujarnya dalam pembukaan Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (14/8).

Limbah Uang Kertas Disulap Jadi Energi dan Produk Baru

Untuk merealisasikan target tersebut, BI memanfaatkan Limbah Racik Uang Kertas (LRUK) yang berasal dari sisa pemusnahan uang tidak layak edar. Alih-alih berakhir di tempat pembuangan akhir, limbah ini diolah melalui dua skema. Pertama, waste to energy (WtE) yang mengonversi limbah menjadi energi, dan kedua, waste to product (WtP) yang mengubahnya menjadi produk baru.

Metode ini dinilai mampu menekan emisi karbon secara signifikan dibandingkan pembuangan konvensional. Dari sisi efisiensi, bank sentral juga bisa menghindari sebagian biaya pengolahan limbah yang selama ini dikeluarkan.

Diakui Asosiasi Internasional, BI Perpanjang Masa Edar Uang

Upaya ini membawa BI meraih penghargaan Best New Environmental Sustainability Project dari International Association of Currency Affairs (IACA). Asosiasi yang menaungi 77 anggota dari bank sentral, otoritas, hingga industri bahan uang ini menilai program Rupiah Waste to Worth Collaboration unggul dalam tiga aspek: kolaborasi lintas pemangku kepentingan, kepemimpinan kelembagaan, dan implementasi nyata WtE/WtP.

Di luar pengelolaan limbah, BI juga berupaya memperpanjang masa edar uang kertas dengan menerapkan lapisan pelindung atau coating pada emisi 2022. Langkah ini membuat uang lebih tahan lama selama beredar di masyarakat.

Uang Tunai dan Digital Saling Melengkapi, Bukan Menggantikan

Meski transaksi digital terus tumbuh, BI menegaskan uang kartal tetap diperlukan. Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Anwar Bashori menyebut kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17 ribu pulau serta tingkat literasi digital yang beragam menjadi pertimbangan utama.

"Digitalisasi dan uang tunai bukanlah saling menggantikan, tapi komplementer, saling melengkapi," tutur Anwar dalam kesempatan yang sama. Data internal BI menunjukkan uang tunai menyumbang sekitar 20 persen dari total uang beredar, dan lebih dari separuh penduduk Indonesia masih mengandalkan transaksi tunai sehari-hari.

FERBI 2026 Jadi Wadah Dialog dan Edukasi Publik

Dalam gelaran FERBI yang berlangsung 14-16 Agustus 2026, BI memperkenalkan BRIDGE, forum dialog yang mempertemukan bank sentral, pelaku industri pengelolaan uang, serta para ahli dalam dan luar negeri. Forum ini membahas desain uang, strategi pemberantasan uang palsu, hingga modernisasi infrastruktur pengelolaan uang.

Rangkaian acara juga mencakup talkshow tentang perjalanan rupiah, literasi keuangan, serta pameran teknologi dan infrastruktur pengelolaan uang. Ricky menambahkan, menjaga rupiah bukan hanya tugas bank sentral. "Yang pasti, menjaga rupiah bukan hanya tugas Bank Indonesia. Ini adalah kerja bersama untuk menjaga kepercayaan, persatuan, dan kedaulatan Indonesia," pungkasnya.

Reporter: Hamzah Effendi
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top