SUMATERA UTARA — Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (PGS BI) Destry Damayanti mengungkapkan, kebijakan moneter yang lebih ketat berhasil meningkatkan daya tarik aset berdenominasi rupiah bagi investor asing. Dana masuk terkonsentrasi pada instrumen surat utang pemerintah dan SRBI, sementara aliran ke pasar saham belum menunjukkan pergerakan signifikan.
"Inflow masuk ke memang saat ini baru di SBN dan SRBI. Sehingga di kuartal II kenaikannya cukup signifikan. Sehingga in total sudah terjadi inflow sekitar US$8,5 sampai US$9 miliar," kata Destry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (3/8).
Keputusan menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin dalam dua bulan berturut-turut merupakan respons atas kombinasi tekanan eksternal yang jarang terjadi bersamaan. Destry menjelaskan, periode Mei-Juni 2026 menjadi momen paling kritis bagi stabilitas nilai tukar rupiah.
"Pada saat 2 bulan periode tersebut kondisi global itu sangat volatile. Kemudian juga kita melihat ekspektasi bahwa Fed Fund Rate itu akan naik lebih cepat dibandingkan perkiraan awal. Kemudian juga harga minyak pada saat itu pas tinggi-tingginya. Dan tekanan kepada rupiah juga pada saat itu lagi tinggi-tingginya," urai Destry.
Dengan spread imbal hasil yang lebih kompetitif, BI berharap terjadi repricing aset rupiah yang membuat instrumen keuangan domestik semakin menarik. Langkah ini dinilai perlu untuk mencegah pelemahan rupiah yang lebih dalam di tengah ketidakpastian global.
Transmisi kebijakan moneter yang lebih ketat ternyata tidak mengganggu intermediasi perbankan. Data BI menunjukkan pertumbuhan kredit masih berada di atas 12% secara tahunan pada Juni 2026, menandakan aktivitas ekonomi domestik tetap berjalan normal.
Dari sisi inflasi, hasil yang positif juga mulai terlihat. Inflasi pangan bergejolak (volatile food) turun signifikan dari lebih dari 5% pada bulan sebelumnya menjadi sekitar 2,5%. Sementara inflasi inti yang mencerminkan permintaan domestik terjaga di level 2,76%, dan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat 2,88%.
"Artinya pergerakan ekonomi yang terjadi itu tidak mendorong overheating atau tidak mendorong ekonomi secara keseluruhan naik. Jadi itu dampak kita bisa lihat stabilitas bisa terjaga sehingga kalau kita lihat juga pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir ini cukup terkendali," tandas Destry.
Masuknya modal asing ke SBN dan SRBI memberikan sinyal positif bagi pemegang obligasi domestik, terutama dari sisi likuiditas dan stabilitas imbal hasil. Namun, investor perlu mencermati bahwa aliran dana masih terbatas pada instrumen pendapatan tetap, belum merata ke pasar saham.
Bagi pelaku usaha, pertumbuhan kredit di atas 12% menunjukkan perbankan masih agresif menyalurkan pembiayaan meskipun suku bunga acuan berada di level yang lebih tinggi. Ini menjadi indikator bahwa risiko kredit dan likuiditas perbankan masih dalam kondisi yang manageable.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada arah kebijakan Federal Reserve dan perkembangan harga komoditas global. BI sendiri memastikan akan terus memantau dinamika eksternal untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan nasional. Investasi mengandung risiko.