Ancaman Ganda Hidrometeorologi di Sumut: 19 Daerah Diminta Siaga Banjir dan Karhutla, Madina Masuk Daftar

Penulis: Ramli Ahmad  •  Senin, 20 Juli 2026 | 15:14:31 WIB
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menerbitkan instruksi kesiapsiagaan terhadap ancaman banjir dan karhutla di 19 daerah, termasuk Mandailing Natal.

MEDAN — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tidak lagi hanya fokus pada penanganan banjir dan tanah longsor. Gubernur Bobby Nasution menerbitkan Surat Instruksi nomor 188.54/6/INST/2026 pada Minggu (19/7/2026) yang mewajibkan 19 daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman ganda: bencana hidrometeorologi basah sekaligus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang mengintai saat kemarau puncak.

Madina dan 18 Daerah Lain dalam Zonasi Risiko

Dalam instruksi tertulisnya, Bobby Nasution secara spesifik menyoroti wilayah yang pernah luluh lantak akibat bencana serupa pada 2025. Kabupaten Tapanuli Tengah masuk kategori risiko tinggi pada Juli ini, sementara 18 wilayah lain—termasuk Mandailing Natal (Madina), Batubara, Dairi, Humbang Hasundutan, Karo, Labuhanbatu Selatan, Padanglawas, Padanglawas Utara, Samosir, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Toba, dan Kota Padangsidimpuan—berada pada kategori rendah hingga menengah dengan curah hujan 51–200 mm.

Meski begitu, Kepala BPBD Sumut Tuahta Ramajaya Saragih mengingatkan bahwa status rendah-menengah bukan berarti aman. Fase transisi atau pancaroba justru membawa anomali cuaca yang sulit diprediksi.

Fase Pancaroba: Hujan Masih Mengguyur, Kemarau Mulai Bayangi

"Saat ini kita masuk musim pancaroba, di mana transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Diprediksi puncaknya Agustus untuk musim kemarau. Tapi memang, saat ini hujan masih terus melanda di Sumut," ujar Tuahta, Minggu (19/7/2026).

Kondisi ini membuat skema mitigasi harus lebih dinamis. BPBD kabupaten/kota diminta menyiagakan alat berat dan logistik secara penuh. Masyarakat juga diimbau mengubah kebiasaan yang memicu bencana sekunder, seperti membakar sampah di dekat hutan pada siang hari.

Fenomena Antisiklon Picu Hujan Lebat Berkepanjangan

Prakirawan BBMKG Wilayah I Medan Ilham Haris menjelaskan bahwa tingginya curah hujan belakangan ini dipicu fenomena Antisiklon—pusat tekanan udara tinggi di Samudera Hindia Barat Sumut. Aktivitas Gelombang Kelvin dan suhu permukaan laut yang hangat turut mempercepat penumpukan uap air dan pembentukan awan konvektif masif.

"Kondisi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat ini diperkirakan masih bertahan di sebagian besar wilayah Sumut hingga beberapa hari ke depan," kata Ilham.

Bobby Nasution menegaskan bahwa kesiapsiagaan bersifat mendesak. Daerah-daerah yang pernah terdampak parah pada 2025 harus menjadi prioritas penanganan demi menghindari jatuhnya korban jiwa dan kerugian materiil yang lebih besar.

Reporter: Ramli Ahmad
Sumber: startnews.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top