MEDAN — Kenaikan harga beras premium di Sumatera Utara kian membebani warga, terutama di wilayah kepulauan dan pesisir barat. Berdasarkan data dari website Harga Pangan Pemprov Sumut yang dipantau Jumat (10/7/2026), harga rata-rata beras premium di 33 kabupaten/kota tercatat Rp 16.250 per kg, naik dari Rp 15.833 per kg pada hari sebelumnya.
Kenaikan ini tidak merata. Di Kabupaten Humbang Hasundutan, harga masih bertahan di Rp 15 ribu per kg, menjadi yang terendah di Sumut. Namun, di Nias Utara, harga sudah menyentuh Rp 18 ribu per kg, disusul Sibolga Rp 17.719 per kg, dan Nias Barat Rp 17 ribu per kg. Kabupaten Asahan, Batubara, dan Nias berada di kisaran Rp 15.400 per kg.
Di Pasar Sukaramai Medan, para pedagang sembako merasakan langsung dampak kelangkaan pasokan. Alfi, seorang pedagang di pasar tersebut, mengatakan bahwa harga beras premium ukuran 5 kilogram kini dijual Rp 85 ribu, naik Rp 4 ribu dibanding pekan lalu.
"Sekarang beras cantik (premium) ukuran 5 kilogram Rp 85 ribu, ada lah naik Rp 4.000. Sekarang pun lagi enggak banyak barang masuk," ujar Alfi kepada detikSumut.
Ia menambahkan bahwa kenaikan harga sudah terasa sejak awal Juli 2026. Distribusi beras dari penggilingan ke pasar dinilai tidak sebanyak biasanya, memicu panic buying di kalangan pedagang kecil.
Kondisi serupa juga terjadi di retail modern Kota Medan. Sejumlah pegawai toko mengakui bahwa stok beras premium dengan harga Rp 77 ribu per 5 kilogram sudah kosong dalam sepekan terakhir. Konsumen hanya bisa mendapatkan beras dengan harga di atas Rp 90 ribu per kemasan.
"Kosong udah agak lama yang harga Rp 77 ribu ukuran 5 kg. Yang ada harga beras di atas Rp 90 ribuan. Kalau masuk barang belum tahu, tunggu datang barang PO-nya lah," ucap seorang pegawai retail modern di Kota Medan.
Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan ibu rumah tangga dan pelaku UMKM kuliner yang sangat bergantung pada ketersediaan beras premium. Sejumlah warung nasi di Medan mengaku mulai mengurangi porsi atau menaikkan harga jual makanan untuk menyesuaikan biaya produksi.
Belum ada pernyataan resmi dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut mengenai penyebab spesifik kenaikan ini. Namun, pola serupa pada tahun-tahun sebelumnya biasanya dipicu oleh berkurangnya pasokan dari sentra produksi beras di Sumut seperti Deli Serdang dan Serdang Bedagai akibat musim kemarau atau keterlambatan panen.
Selain itu, disparitas harga yang lebar antara Nias Utara dan Medan — mencapai Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per kg — menunjukkan bahwa biaya distribusi ke wilayah kepulauan masih menjadi faktor utama. Kapal pengangkut logistik dari Pelabuhan Belawan ke Pelabuhan Gunungsitoli kerap terkendala cuaca buruk di Selat Malaka pada Juli-Agustus.
Pemprov Sumut diharapkan segera menggelar operasi pasar atau menggencarkan kembali program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk menekan lonjakan harga, terutama di daerah tertinggal seperti Nias Utara dan Nias Barat.