MEDAN — Komisi VII DPR RI mendorong transformasi Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) yang sudah setengah abad berjalan. Ajang tahunan ini diminta tidak lagi dipandang sekadar pesta rakyat atau tempat hiburan musiman.
“Di usia ke-50 PRSU, kami menginginkan tidak mempertahankan sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi etalase berbagai sektor termasuk etalase promosi potensi dari daerah,” ujar Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty di Medan, Kamis.
Evita menilai PRSU memiliki modal besar untuk menjadi pusat pertemuan lintas sektor. Sebanyak 33 paviliun daerah serta satu paviliun luar negeri, yakni Penang, Malaysia, tercatat berpartisipasi dalam kegiatan ini.
“Ini menunjukkan bahwa PRSU memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pertemuan,” kata Evita.
Politisi itu merinci sejumlah sektor yang bisa dioptimalkan. Dari sisi ekonomi kreatif, PRSU bisa menjadi panggung musik, seni pertunjukan, kriya, dan fashion. Sementara dari sektor UMKM, ajang ini dinilai mampu menjadi wadah perluasan pasar bagi produk lokal.
“Dari pariwisata, PRSU dapat jadi pintu promosi destinasi wisata Sumatera Utara. Ini harus dikembangkan lagi,” ujarnya.
Evita meminta PT Pembangunan Prasarana Sumut selaku pengelola untuk melakukan berbagai upaya mengoptimalkan ajang tersebut. Semangat transformasi, kata dia, menjadi kunci agar PRSU tidak lagi dipersepsikan sebagai keramaian belaka.
“PRSU tidak boleh hanya dilihat sebagai arena hiburan atau keramaian masyarakat saja, tetapi menjadi etalase besar dari Sumatera Utara,” tegas Evita.
Dengan semangat bersama, ia meyakini PRSU bisa menjadi wadah yang bermanfaat bagi masyarakat Sumut jika dikelola dengan serius. Rombongan Komisi VII DPR RI juga sempat meninjau sejumlah paviliun daerah dan paviliun milik Penang, Malaysia, yang menjadi satu-satunya negara asing yang berpartisipasi aktif dalam ajang tersebut.