SUMATERA UTARA — Prabowo Subianto melontarkan kritik tajam terhadap kebiasaan saling menjatuhkan yang kerap muncul dalam interaksi sosial dan politik di Indonesia. Fenomena ini, menurutnya, menjadi salah satu hambatan terbesar bagi bangsa untuk bergerak maju secara bersama-sama.
Dalam pernyataannya, Prabowo menganalogikan perilaku tersebut dengan seekor kepiting yang berada dalam ember. Saat seekor kepiting mulai merayap naik untuk keluar dari perangkap, kepiting lainnya akan menariknya kembali ke bawah.
“Mentalitas saling menjatuhkan ini masih menjadi tantangan. Kita seperti bangsa kepiting,” ujar Prabowo dalam kesempatan tersebut. Ia menekankan bahwa pola pikir semacam ini justru melemahkan potensi bangsa di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Pernyataan Prabowo ini muncul di tengah hiruk-pikuk politik nasional menjelang tahun politik. Meski tidak menyebut secara spesifik pihak atau peristiwa tertentu, kritik ini kerap diartikan sebagai respons terhadap meningkatnya tensi antar-elite yang saling serang jelang kontestasi elektoral.
Prabowo mengingatkan bahwa energi bangsa seharusnya difokuskan pada pembangunan dan kesejahteraan rakyat, bukan pada upaya saling menjatuhkan demi kepentingan sesaat. “Kita harus berhenti menjadi bangsa yang suka menjatuhkan saudara sendiri,” tegasnya.
Pernyataan Prabowo menuai beragam reaksi. Sebagian kalangan menilai kritik tersebut relevan dengan kondisi polarisasi yang masih terasa di masyarakat. Namun, ada pula yang menganggapnya sebagai retorika politik yang biasa muncul menjelang pemilu.
Pengamat politik dari Universitas Indonesia, yang enggan disebut namanya, mencatat bahwa istilah ‘bangsa kepiting’ memang bukan hal baru dalam diskursus politik Indonesia. “Istilah ini sudah lama digunakan untuk menggambarkan budaya feodal dan iri sosial yang menghambat produktivitas,” katanya.
Meski demikian, ia menambahkan, efektivitas pernyataan semacam ini untuk mengubah perilaku politik masih perlu diuji. “Yang dibutuhkan bukan sekadar retorika, tapi keteladanan dan kebijakan yang mendorong kerja sama, bukan kompetisi yang destruktif,” ujarnya.