MEDAN — Forum yang digelar pada Kamis (2/7) itu menyoroti sejumlah celah kerawanan yang masih mengintai kerukunan di Sumut. Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Sumut, Syafrizal Bancin, menekankan bahwa pengumpulan para pemangku kepentingan merupakan langkah strategis. "Apabila para tokoh agama maupun pemangku kebijakan sudah bergandengan tangan untuk membina dan mengayomi masyarakat, maka Sumatera Utara akan aman dan kondusif," ujarnya.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sumut, Mulyono, membeberkan tantangan paling krusial saat ini. Menurutnya, kemajuan teknologi dan media sosial telah mengubah peta konflik. "Konflik yang awalnya kecil sering kali dipoles oleh pihak yang tidak bertanggungjawab hingga menjadi besar di dunia maya," ungkap Mulyono.
Peringatan serupa disampaikan Kepala Satgas Densus 88 AT Polri, Kompol Albert Arisandi. Ia mengungkapkan bahwa meskipun Sumut berhasil mempertahankan status zero peristiwa teror selama 3,5 tahun terakhir, terjadi pergeseran pola gerakan radikal. "Provokasi di media sosial kini semakin masif. Karena ruang gerak fisik makin sempit, mereka bergeser ke platform online. Ini tantangan bersama kita," jelas Kompol Albert.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumut, M Hatta Siregar, membeberkan strategi taktis yang terus dijalankan pihaknya. FKUB berkomitmen pada lima ikhtiar utama untuk merawat iklim toleran dan moderat di Sumatera Utara.
Syafrizal Bancin menambahkan, pihaknya secara khusus mengajak para penyuluh agama untuk aktif menyasar komunitas paling bawah. Tujuannya memastikan pesan-pesan moderasi beragama tersampaikan hingga ke seluruh lapisan masyarakat. "Pada dasarnya, semua agama mengajarkan kedamaian, keharmonisan, dan kasih sayang," kata Syafrizal.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi penguatan dan perawatan kerukunan umat beragama secara berkelanjutan di Sumatera Utara. Para pemangku kebijakan sepakat bahwa sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan aparat keamanan adalah kunci utama menjaga kondusivitas wilayah.