MEDAN — Prestasi itu diraih setelah 18 atlet mahasiswa USU bertarung di dua kategori utama, yakni Kyorugi (tarung) dan Poomsae (seni). Kejuaraan tahun ini diikuti sekitar 1.500 atlet dari 10 provinsi di Indonesia, menjadikannya salah satu ajang taekwondo terbesar di Sumatera.
Direktur Kemahasiswaan dan Kealumnian USU, Prof. Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si., menyebut capaian ini sebagai bukti kualitas pembinaan olahraga di lingkungan kampus. "Keberhasilan ini mencerminkan kerja keras, disiplin, dan semangat juang mahasiswa dalam mengembangkan potensi di bidang olahraga," ujarnya dalam rilis yang diterima redaksi, Rabu (1/7).
Ketua UKM Taekwondo USU, A. Harpindo Ginting, mengungkapkan bahwa persiapan atlet sudah dimulai sejak dua bulan sebelum kompetisi. Intensitas latihan dinaikkan secara bertahap, dari ringan hingga berat, dengan frekuensi lima sampai enam kali per pekan.
"Latihan yang cukup intens dari hari ke hari, intensitas latihannya dari yang ringan hingga ke berat, dan bisa latihan 5-6 kali seminggu dalam kurun 2 bulan," jelas Harpindo.
Ia mengakui bahwa tantangan terbesar bukan datang dari lawan tanding, melainkan dari jadwal akademik yang berjalan beriringan. Sebagian besar atlet harus tetap mengikuti perkuliahan dan bahkan menjalani ujian akhir semester (UAS) di tengah padatnya jadwal latihan.
"Menerapkan manajemen waktu jadwal kuliah yang padat. Kemarin jadwal UAS kami harus mampu mengimbangi dengan latihan rutin kami," kata Harpindo.
Di akhir wawancara, Harpindo menyemangati mahasiswa USU dan atlet muda di seluruh Indonesia untuk terus mengembangkan potensi diri. Menurutnya, prestasi bukan hanya soal kemenangan, melainkan proses panjang yang membentuk karakter.
"Tetap semangat untuk seluruh mahasiswa mahasiswi USU dan atlet-atlet muda lainnya. Jangan takut untuk mencoba, berkembang, dan keluar dari zona nyaman. Prestasi itu bukan hanya tentang menang, tapi tentang proses, konsistensi, dan bagaimana kita terus belajar dari setiap pengalaman," tuturnya.