MEDAN — Cuaca di Sumatera Utara pada hari ini diprediksi tidak bersahabat bagi sebagian besar wilayahnya. Berdasarkan data dari Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I, potensi hujan ringan hingga sedang akan merata mulai siang hingga malam hari.
Pada siang hari, hujan diprakirakan terjadi di 23 daerah. Wilayah tersebut meliputi Asahan, Batu Bara, Deli Serdang, Kota Medan, Karo, Binjai, Pematangsiantar, Tanjungbalai, Tebing Tinggi, Labuhanbatu, Labuhanbatu Selatan, Labuhanbatu Utara, Langkat, Mandailing Natal, Padang Lawas, Samosir, Serdang Bedagai, Simalungun, Toba, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.
Sementara itu, beberapa daerah lain seperti Dairi, Humbang Hasundutan, Gunungsitoli, Padangsidimpuan, Sibolga, Kepulauan Nias, dan Pakpak Bharat diprediksi hanya berawan pada siang hari.
Memasuki malam hari, potensi hujan tak kunjung reda. BBMKG menyebut hujan masih berpeluang mengguyur Asahan, Batubara, Deli Serdang, Karo, Binjai, Medan, Pematangsiantar, Tebing Tinggi, Labuhanbatu, Labuhanbatu Selatan, Langkat, dan Mandailing Natal.
Prakirawan BBMKG Wilayah I, Putri Diana, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Ia menyoroti potensi hujan sedang yang dapat disertai petir dan angin kencang di kawasan pegunungan serta lereng timur dan barat Sumatera Utara.
"Waspada potensi Hujan sedang yang dapat disertai petir dan angin kencang di wilayah Pegunungan, Lereng Timur dan Lereng Barat Sumatera Utara yang dapat menyebabkan bencana seperti banjir, dan longsor, dan angin kencang," ucap Putri Diana dalam rilis resminya.
Selain curah hujan, BBMKG juga mencatat adanya empat titik panas di wilayah Sumatera Utara. Titik-titik tersebut tersebar di Kabupaten Labuhanbatu, Labuhanbatu Selatan, Tapanuli Selatan, dan Padang Lawas. Keberadaan titik panas ini kerap menjadi indikasi awal kebakaran hutan dan lahan, terutama di musim pancaroba.
Secara umum, suhu udara di Sumatera Utara hari ini berkisar antara 16 hingga 33 derajat Celsius. Kelembapan udara berada di angka 68 hingga 96 persen, dengan kecepatan angin yang relatif rendah, yakni 2 hingga 7 kilometer per jam. Kombinasi kelembapan tinggi dan angin lemah ini menjadi faktor utama terbentuknya awan hujan konvektif yang kerap terjadi di wilayah tropis.