MEDAN — Angka anak-anak yang terjerat judi daring di Indonesia mencapai hampir 200 ribu orang, dan 80 ribu di antaranya masih duduk di bangku SD. Fakta ini yang mendorong Wali Kota Medan Rico Tri Putra Waas untuk tidak hanya mengandalkan aparat, tetapi juga melibatkan pelajar dalam perang melawan praktik ilegal tersebut.
Rico menyampaikan ajakan itu saat menghadiri kegiatan Ikatan Pelajar Al Washliyah (IPA) di Kota Medan, Sabtu. Menurutnya, generasi muda justru menjadi sasaran empuk bandar judi online karena melek teknologi namun rentan terhadap iming-iming keuntungan instan.
Rico menilai, judi daring tidak lagi membedakan usia. Praktik ini sudah menyusup ke kalangan pelajar dan mahasiswa, menggerogoti mentalitas dan masa depan mereka. "Karena judi daring merusak mentalitas generasi muda," ujar Rico dalam sambutannya.
Ia menegaskan, pelajar dan mahasiswa harus menjadi bagian dari solusi, bukan justru korban. "Mari bersama-sama kita memerangi aktivitas yang merusak generasi bangsa seperti narkoba, tawuran, pornografi, dan judi daring," kata Rico.
Wali Kota Medan meminta Ikatan Pelajar Al Washliyah tidak diam jika menemukan aktivitas judi daring di lingkungan sekolah atau tempat tinggal. Ia mendorong mereka untuk proaktif melapor kepada pihak berwenang.
"Ayo menjadi agen perubahan melalui kegiatan positif yang mampu membangun karakter, kreativitas, serta kepedulian sosial," ujarnya. Ajakan ini sekaligus mengubah paradigma bahwa perang melawan judi daring bukan hanya tugas polisi atau Kominfo, melainkan juga tanggung jawab komunitas pelajar.
Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengakui bahwa pemblokiran situs judi daring saja tidak cukup. Diperlukan penguatan literasi digital dan edukasi langsung kepada masyarakat mengenai dampak negatifnya.
Data Kementerian Kominfo menunjukkan, mayoritas anak yang terpapar judi daring berasal dari kalangan pelajar yang memiliki akses bebas ke ponsel pintar. Tanpa pendampingan dan edukasi, mereka mudah tergiur dengan iklan dan tautan judi yang berseliweran di media sosial.
Langkah Wali Kota Medan mengajak Ikatan Pelajar Al Washliyah menjadi salah satu bentuk edukasi berbasis komunitas. Dengan melibatkan tokoh agama dan organisasi kepemudaan, pesan bahaya judi daring diharapkan lebih mudah diterima dan disebarluaskan di kalangan pelajar.