MEDAN — Tren pariwisata Sumatera Utara mulai bergeser. Jika selama ini Malaysia menjadi raja penyumbang wisatawan, kini geliat turis dari negara-negara jauh mulai terasa. BPS Sumut mencatat kunjungan dari Jerman melesat 31,28 persen, Australia naik 24,91 persen, dan Tiongkok tumbuh 12,55 persen pada Maret 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski secara bulanan kunjungan dari Malaysia dan Singapura terkoreksi—masing-masing turun 16,58 persen dan 23,80 persen—pangsa pasar Malaysia tetap yang terbesar. Negeri Jiran menyumbang 39,73 persen dari total wisman, disusul Singapura 5,10 persen, Tiongkok 3,24 persen, Jerman 1,91 persen, dan Australia 1,47 persen.
Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, mengatakan performa tiga bulan pertama 2026 cukup stabil. "Dimulai dari 22.583 kunjungan pada Januari, angka tersebut naik menjadi 24.851 pada Februari, sebelum akhirnya sedikit terkoreksi pada Maret," ujarnya, Jumat (15/5/2026).
Jika dibandingkan dengan Maret 2025, jumlah wisman melonjak 43,40 persen. Ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor pariwisata Sumut sudah pulih dan bergerak lebih agresif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. "Ini menunjukkan kinerja pariwisata yang jauh lebih baik," kata Asim.
Meski secara bulanan (month-to-month) kunjungan Maret 2026 turun tipis 1,01 persen dari Februari, penurunan itu dinilai wajar karena faktor musiman. Pertumbuhan tahunan yang tinggi justru menjadi modal optimisme bagi pelaku industri perhotelan dan biro perjalanan.
Stabilnya kunjungan wisman berdampak langsung pada tingkat penghunian kamar (TPK) hotel. Pada Maret 2026, TPK hotel berbintang mencapai 41,58 persen, naik dari 40,67 persen pada bulan sebelumnya. Hotel bintang 5 mencatat okupansi tertinggi sebesar 53,22 persen.
Menariknya, hotel non-bintang juga menikmati berkah. TPK hotel melati naik dari 21,83 persen menjadi 26,38 persen. Asim menyebut kenaikan 4,55 poin ini dipengaruhi oleh periode libur Lebaran. "Secara total, TPK gabungan seluruh hotel di Sumatera Utara meningkat dari 28,54 persen menjadi 31,82 persen," jelasnya.
Data ini memberikan gambaran bahwa pasar wisatawan Sumut mulai terdiversifikasi. Ketergantungan pada Malaysia perlahan terkikis oleh pertumbuhan turis Eropa dan Australia yang memiliki rata-rata belanja lebih tinggi. Bagi pengelola destinasi dan hotel, ini adalah peluang untuk menyesuaikan paket wisata dan layanan berbahasa asing.
Bandara Internasional Kualanamu sebagai pintu masuk utama punya peran sentral dalam menjaga momentum ini. Dengan tambahan rute langsung dari Tiongkok dan Eropa yang mulai dioperasikan beberapa maskapai, angka 24.600 kunjungan per bulan berpotensi terus bertambah hingga akhir 2026.