Pencarian

Guru PAUD Tana Tidung Dibekali Ilmu Tanggap Iklim untuk Lindungi Anak

Kamis, 22 Oktober 2026 • 12:07:02 WIB
Guru PAUD Tana Tidung Dibekali Ilmu Tanggap Iklim untuk Lindungi Anak
Guru PAUD di Tana Tidung mengikuti pelatihan tanggap iklim untuk mendampingi anak usia dini dalam situasi darurat.

SUMATERA UTARA — Kabupaten Tana Tidung menghadapi risiko kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan gambut yang bisa menghentikan kegiatan sekolah. Untuk itu, para guru PAUD di sana dilatih agar siap mengajar dan mendampingi anak usia dini saat situasi darurat datang.

Pelatihan bagi pendidik anak usia dini di Tana Tidung, Kalimantan Utara, digelar bersama SEAMEO CECCEP dan Koalisi Nasional PAUD HI. Program ini menyusul Forum ECD Asia-Pasifik 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 20–22 Oktober 2026.

Fokusnya bukan sekadar teori lingkungan. Guru dibekali cara mengenalkan perubahan iklim lewat permainan, kegiatan di alam, dan kebiasaan sehari-hari yang sesuai usia anak.

Apa yang Dilatih untuk Guru PAUD?

Materi pelatihan dibagi ke dalam tiga bidang utama. Pertama, pengembangan kurikulum kontekstual berbasis permainan dan alam. Kedua, penguatan keterampilan sosial-emosional atau social-emotional learning (SEL) untuk mendukung anak saat menghadapi bencana.

Bidang ketiga adalah peningkatan kolaborasi lintas sektor. Tujuannya agar layanan pendidikan dan perlindungan anak bisa saling mendukung, tidak berjalan sendiri-sendiri.

Bunda PAUD Kabupaten Tana Tidung, Vamelia Ibrahim, S.E., M.Pd., menekankan pentingnya pendekatan yang dekat dengan keseharian anak.

"Guru PAUD perlu memiliki bekal untuk mengenalkan perubahan iklim kepada anak dengan cara yang sederhana dan sesuai usia mereka. Pembelajaran dapat dilakukan lewat permainan, kegiatan di alam, serta kebiasaan sehari-hari yang membantu anak memahami lingkungan di sekitarnya," ujar Vamelia.

Kenapa Anak Usia Dini Perlu Pendampingan Emosional?

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan berpotensi membuat sekolah diliburkan sementara. Rutinitas anak pun berubah, dan perubahan mendadak seperti ini bisa memicu rasa cemas pada anak kecil.

Karena itu, pelatihan ini juga menyiapkan guru untuk mengenali kondisi emosional anak. Anak tetap butuh rasa aman, interaksi yang mendukung perkembangan, serta penjelasan sederhana yang tidak membuatnya takut.

"Dalam situasi darurat, anak membutuhkan pendampingan yang tepat agar mereka tetap merasa aman. Guru harus mampu mengenali kondisi emosional anak dan memberikan dukungan sesuai kebutuhan mereka, sehingga proses tumbuh kembang tetap mendapat perhatian meskipun aktivitas belajar mengalami perubahan," kata Vamelia.

Mengenal Kerangka RAMAH

Penerapan pendidikan perubahan iklim di Tana Tidung memakai kerangka RAMAH. Singkatannya: Relevan dengan kondisi daerah, menyentuh aspek afektif anak, Merujuk pada ilmu pengetahuan dan kearifan lokal, berorientasi pada Aksi nyata, serta dilaksanakan secara Holistik.

Lewat kerangka ini, pengetahuan ilmiah dihubungkan dengan pengalaman sehari-hari anak. Materi disampaikan melalui kegiatan yang sesuai tahap perkembangan mereka, bukan ceramah yang membingungkan.

"Pendidikan perubahan iklim harus dekat dengan kehidupan anak. Mereka bisa diajak mengenali lingkungan, memahami perubahan yang terjadi di sekitarnya, dan belajar melakukan tindakan sederhana untuk menjaga alam," tutur Vamelia.

Kaitan dengan Layanan PAUD HI

Gangguan akibat kabut asap bukan cuma soal belajar. Situasi darurat juga bisa menghambat layanan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI), yang mencakup pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, dan perlindungan anak.

Karena itu, kesiapan guru dinilai kunci. Pendidik yang lebih siap bisa memastikan kebutuhan anak tetap terpenuhi meski aktivitas belajar berubah.

"Anak-anak harus tetap mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang dalam kondisi apa pun. Guru yang lebih siap, pembelajaran yang sesuai dengan lingkungan, serta dukungan lintas sektor, kami harapkan kebutuhan anak tetap terpenuhi dan mereka tumbuh dengan pemahaman yang baik tentang keselamatan serta pentingnya menjaga alam," tandas Vamelia.

Bagi ibu di daerah rawan kabut asap, ada baiknya mulai membiasakan anak mengenal lingkungan sekitar dan menjaga komunikasi dengan sekolah soal rencana darurat. Guru yang terlatih dan orang tua yang waspada jadi kombinasi terbaik agar tumbuh kembang anak tetap terjaga.

Follow monitorsumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: fokusborneo.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks