SUMATERA UTARA — Setelah menjajal iPhone Duo di Singapura, satu hal yang paling menonjol bukanlah layar 7,6 inci atau cip A20 Pro, melainkan keputusan Apple menghapus Face ID demi Touch ID di tombol daya. Ponsel lipat pertama Apple ini dibanderol mulai S$3.099 (sekitar Rp44 juta) di Singapura, atau sekitar Rp45 juta untuk pasar Indonesia, menempatkannya sebagai iPhone termahal sejauh ini dan bersaing langsung dengan Samsung Galaxy Fold8. Ada beberapa kompromi yang perlu dicerna sebelum Anda menyiapkan dana sebesar itu.
iPhone Duo menjadi ponsel lipat pertama Apple yang resmi menyambangi pasar Asia Tenggara lewat Singapura. Unit yang diuji dalam sesi hands-on ini adalah versi global dengan layar dalam 7,6 inci, bodi titanium, dan cip A20 Pro. Perlu dicatat, kesan di bawah ini berasal dari pemakaian singkat beberapa jam, bukan uji jangka panjang, sehingga daya tahan engsel dan baterai belum bisa dinilai final.
Saat dibuka, layar OLED 7,6 inci iPhone Duo hanya sedikit lebih kecil dari iPad mini 8,3 inci. Apple mengklaim area tampilnya 50 persen lebih luas dibanding iPhone 18 Pro Max saat perangkat terbuka.
Yang membuatnya beda dari pesaing adalah lapisan matte pada layar dalam. Pantulan cahaya dan silau jauh berkurang, sehingga menonton video atau membaca dokumen terasa lebih nyaman dibanding ponsel lipat lain yang memakai panel mengilap. Ini keunggulan yang langsung terasa, bukan sekadar klaim di atas kertas.
Bekas lipatan juga nyaris tak terlihat. Anda harus memperhatikannya dari jarak dekat atau memakai wallpaper gelap untuk menemukan garis samar di tengah layar. Di kelas ponsel lipat, pencapaian ini termasuk yang terbaik.
Bingkai titanium dengan finishing mengilap seperti cermin memberi kesan premium yang konsisten dengan posisinya sebagai iPhone termahal. Ketebalan saat terbuka hanya 5,2 mm, tetapi bodinya tidak terasa ringkih. Saat dilipat, ukurannya justru lebih mungil dari iPhone 18 Pro Max sehingga mudah masuk saku.
Mekanisme engsel bekerja mulus dan mengunci pada posisinya ketika hampir terbuka penuh. Apple juga menyematkan efek transisi yang membuat layar luar seolah menyatu dengan layar dalam saat perangkat dibuka.
Masalah muncul dari desain sudut membulat. Apple menempatkan sebagian besar tombol kendali di sisi layar, dan posisinya dikunci untuk tangan kanan. Pengguna kidal tidak bisa memindahkan tombol ke sisi kiri, sehingga harus meregangkan jari untuk menjangkau kontrol di kanan. Untuk ponsel seharga Rp44 juta, keterbatasan ini terasa mengganggu.
Apple tidak menyematkan Face ID di iPhone Duo. Sebagai gantinya, ada Touch ID di tombol daya, teknologi yang sudah lama dipakai Apple di iPad dan iPhone SE. Pilihan ini masuk akal secara rekayasa, tetapi terasa mundur untuk perangkat sekelas ini.
Ada tombol Camera Control yang membuka kamera dan mengakses Siri Camera. Fitur ini memungkinkan pengguna memotret objek lalu meminta AI menjawab pertanyaan atau membuat jadwal dari foto poster.
Soal kamera, iPhone Duo hanya membawa dua sensor: utama 48MP dan ultrawide 48MP. Tidak ada lensa telefoto seperti di iPhone 18 Pro. Kedua kamera mendukung zoom optik hingga 4x, sedangkan pembesaran di atas itu mengandalkan zoom digital yang menghasilkan gambar berpiksel. Untuk harga Rp44 juta, absennya telefoto adalah kompromi yang sulit diabaikan.
Apple menyematkan Ceramic Shield pada bagian depan dan belakang untuk melindungi dari goresan. Sertifikasi IP68 membuat ponsel tahan direndam di kedalaman air lebih dari 1 meter selama lebih dari 30 menit dan terlindung sepenuhnya dari debu.
Perlindungan ini setara dengan Honor Magic V6 dan sejumlah ponsel lipat premium lain. Setidaknya untuk kekhawatiran soal ketahanan, iPhone Duo tidak memberi alasan cemas berlebih.
Cip A20 Pro menjadi otak iPhone Duo, diklaim sebagai chip ponsel paling bertenaga dari Apple. Yang menarik, Apple memakai vapor chamber khusus plus saluran pendingin yang melewati engsel untuk menyalurkan panas antara kedua sisi ponsel. Area pembuangan panas jadi lebih luas, dan secara teori iPhone Duo mampu mempertahankan performa puncaknya lebih lama dibanding ponsel lipat lain.
Dalam sesi hands-on singkat, belum ada pengujian benchmark atau thermal throttling yang bisa dijadikan patokan. Klaim soal performa berkelanjutan ini perlu dibuktikan lewat uji jangka panjang.
iPhone Duo menjadi iPhone pertama yang memungkinkan dua aplikasi berjalan berdampingan saat layar dibuka. Anda bisa membuka dua tab Safari sekaligus atau menjalankan aplikasi lain secara paralel.
Aplikasi bawaan Apple sudah dioptimalkan sejak awal. Aplikasi pihak ketiga seperti Netflix juga memanfaatkan layar luas, dengan tombol kendali berpindah ke bagian bawah ketika perangkat dilipat setengah. Peralihan antara layar luar dan dalam berjalan mulus tanpa jeda berarti.
Apple menyebut pembaruan mendatang akan menambah dukungan Apple Pencil untuk mencatat, membuat sketsa, atau menganotasi dokumen. Fitur ini belum tersedia saat pengujian.
iPhone Duo adalah perangkat yang jelas menyasar satu kelompok: pengguna Apple yang menginginkan layar besar untuk konsumsi konten dan multitasking, serta tidak keberatan membayar premi tertinggi di jajaran iPhone. Layar matte 7,6 inci dan mekanisme lipat yang rapi adalah nilai jual nyata yang sulit ditandingi pesaing saat ini.
Namun, harga Rp44-45 juta datang dengan kompromi yang tidak kecil: Face ID hilang, telefoto tidak ada, dan desain tombol mengabaikan pengguna kidal. Calon pembeli sebaiknya menunggu hasil uji baterai dan durabilitas engsel sebelum memutuskan. Untuk pengguna yang butuh kamera serba bisa, iPhone 18 Pro Max masih pilihan lebih rasional. iPhone Duo cocok bagi Anda yang menjadikan layar luas sebagai prioritas utama dan siap menerima kompromi lainnya.