SUMATERA UTARA — Temuan 995 pucuk senjata api dan narkoba di sebuah sekolah swasta memicu kecurigaan serius di DPR. Anggota Komisi III, Soedeson Tandra, secara khusus mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya, bukan berhenti pada penangkapan kurir atau penyitaan barang bukti.
Soedeson Tandra menekankan bahwa modus penyimpanan barang bukti di lingkungan sekolah merupakan sinyal bahaya. Ia khawatir ada jaringan kejahatan terorganisir yang dengan sengaja menjadikan institusi pendidikan sebagai tempat penyimpanan atau bahkan transit barang haram.
"Ini bukan persoalan sederhana. Jaringan ini jelas memanfaatkan celah dan mencoba bersembunyi di balik institusi pendidikan," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima redaksi, kemarin.
Politisi itu menilai, jika tidak diusut tuntas, kekhawatiran yang lebih besar adalah potensi penyalahgunaan sarana pendidikan untuk kepentingan operasional kejahatan lain, termasuk peredaran gelap senjata yang kerap dikaitkan dengan aksi teror atau kejahatan bersenjata.
Desakan ini disampaikan di tengah proses penyidikan yang tengah berjalan. DPR meminta kepolisian untuk melakukan penelusuran mendalam terhadap asal-usul kepemilikan senjata, rantai distribusi, serta keterlibatan pihak internal sekolah dalam pengamanan barang-barang ilegal tersebut.
Menurut Soedeson, pengungkapan kasus ini menjadi penting untuk memastikan tidak ada lagi lembaga pendidikan yang dijadikan tameng operasi kejahatan. Ia menegaskan DPR akan mengawal proses hukum ini dan meminta laporan perkembangan penyidikan secara berkala.
Temuan senjata dan narkoba di lingkungan sekolah ini juga membuka ruang evaluasi terhadap pengawasan internal pengelolaan sekolah swasta. Jika terbukti ada unsur kelalaian atau kesengajaan dari pengelola yayasan, mereka dapat dijerat dengan pasal pidana terkait kepemilikan senjata ilegal dan penyalahgunaan narkotika.
Pihak kepolisian sendiri belum merilis detail kronologi penemuan maupun pihak-pihak yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun, desakan dari DPR ini memastikan kasus tersebut tidak akan ditutup hanya dengan penyitaan barang bukti semata.
Publik kini menanti langkah konkret penyidik untuk membongkar aktor intelektual di balik penimbunan 995 pucuk senjata api di lingkungan pendidikan tersebut.