BI Sumut Sebut Pelemahan Rupiah Dongkrak Ekspor CPO dan Kunjungan Wisatawan, Ekonomi Diproyeksi Tumbuh 5,7 Persen

Penulis: Syafruddin Amir  •  Jumat, 07 Agustus 2026 | 21:31:31 WIB
Pelemahan rupiah mendorong peningkatan ekspor CPO dan kunjungan wisatawan mancanegara di Sumatera Utara.

MEDAN — Bank Indonesia (BI) menilai dampak fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap perekonomian Sumatera Utara tidak selalu negatif. Kondisi ini justru disebut menjadi berkah karena meningkatkan daya saing produk ekspor dan menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Utara, Ameriza M. Moesa, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah membuat harga komoditas asal Indonesia lebih murah secara relatif di pasar internasional. Hal ini mendorong peningkatan permintaan, terutama untuk komoditas unggulan daerah.

Ekspor CPO Jadi Motor Utama Pertumbuhan Ekonomi Sumut

BI mencatat pertumbuhan ekspor Sumatera Utara mengalami akselerasi signifikan, dari 2,67 persen menjadi 7,39 persen. Lonjakan ini utamanya ditopang oleh komoditas crude palm oil (CPO) yang menjadi tulang punggung perekonomian regional.

"Jadi kalau ekonomi Sumatera Utara ini dilihat aja dari CPO-nya. Kalau CPO-nya bangkit, pasti ekonominya bergerak. Dan ini terbukti," ujar Ameriza di Medan, Jumat (7/8/2026).

Kinerja positif industri pengolahan sawit turut mengerek sektor-sektor terkait. Sektor industri pengolahan tercatat tumbuh dari 1,53 persen menjadi 1,96 persen, sementara sektor pertanian sebagai pemasok bahan baku meningkat dari 0,41 persen menjadi 1,01 persen.

Kunjungan Wisatawan Meningkat di Tengah Tekanan Rupiah

Di luar sektor ekspor, pelemahan rupiah juga berdampak pada meningkatnya arus kunjungan wisatawan mancanegara. Biaya berwisata di Indonesia dinilai menjadi lebih terjangkau bagi turis asing, termasuk di Sumatera Utara.

"Jadi musibah membawa berkah. Kalau orang-orang kan 'Wah, harga dolar naik', tapi sebenarnya ada daerah-daerah yang diuntungkan, termasuk di Sumatera. Yaitu wisatawan makin meningkat," sebutnya.

Meningkatnya aktivitas pariwisata ini turut menopang konsumsi rumah tangga dan sektor perdagangan yang masih tumbuh sekitar 10 persen. BI juga mencatat investasi meningkat cukup signifikan dari 3,1 persen menjadi 5,45 persen.

Belanja Pemerintah Pusat Jadi Penggerak Tambahan

Selain faktor eksternal, perekonomian Sumatera Utara juga ditopang oleh pengeluaran pemerintah pusat. Sejumlah program strategis disebut memberikan kontribusi terhadap aktivitas ekonomi daerah sepanjang awal tahun ini.

Proyek strategis nasional (PSN), rehabilitasi pascabencana, pembangunan Sekolah Rakyat, koperasi desa, hingga pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra menjadi motor penggerak dari sisi belanja pemerintah.

"Konsumsi pemerintah juga cukup mendorong perekonomian. Karena selama awal tahun ini di Sumatera Utara sektor pemerintah terutama didorong oleh pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah pusat," jelas Ameriza.

Target Pertumbuhan Ekonomi Sumut 2026

Berdasarkan sejumlah indikator tersebut, BI optimistis perekonomian Sumatera Utara akan tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga akhir 2026, pertumbuhan ekonomi daerah diproyeksikan berada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen.

"Kalau kami masih meyakini tahun 2026 ini sampai akhir tahun, Sumatera Utara masih bisa tumbuh antara 4,9 sampai 5,7 persen. Jadi bisa dikatakan pertumbuhan 2026 ini akan lebih baik daripada 2025," tutupnya.

Reporter: Syafruddin Amir
Sumber: disrupsi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top