Bobby Tinjau SMPN 4 Sitolu Ori di Nias Utara, Gedung Baru Rp 1,5 Miliar Gantikan Kelas Becek Berdinding Papan

Penulis: Khairunas Ibrahim  •  Jumat, 07 Agustus 2026 | 17:28:29 WIB
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution, meninjau pembangunan gedung baru SMP Negeri 4 Sitolu Ori di Nias Utara yang didanai Bantuan Keuangan Provinsi senilai Rp 1,5 miliar.

NIAS UTARA — Penantian panjang para siswa dan guru di pedalaman Nias Utara untuk mendapatkan ruang belajar yang layak akhirnya menemui titik terang. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengucurkan dana Bantuan Keuangan Provinsi (BKP) senilai Rp 1,5 miliar untuk membangun gedung permanen SMP Negeri 4 Sitolu Ori yang selama ini berdinding papan dan beralaskan semen.

Kepastian itu datang saat Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, meninjau lokasi sekolah di Jalan Hilimbowo, Desa Tetehosi Maziaya, Kecamatan Sitolu Ori, pada Kamis (6/8/2026). Dalam kunjungannya, orang nomor satu di Sumut itu berkeliling melihat kondisi bangunan lama sekaligus memantau progres pembangunan gedung baru yang tengah berjalan.

Dua Tahun Belajar di Gereja dan Bangunan Papan

Perjalanan SMPN 4 Sitolu Ori memang tidak mudah. Kepala sekolah, Teti Gea, menuturkan bahwa sekolah yang berdiri Juni 2024 itu awalnya hanya memiliki tujuh siswa dan sama sekali tidak memiliki ruang kelas. Kegiatan belajar mengajar saat itu terpaksa dipindahkan ke gereja setempat.

"Awalnya kami belajar di gereja karena belum ada ruang kelas. Saat itu siswa hanya tujuh orang," kata Teti.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat dan sejumlah pihak bergotong royong membangun tiga ruang belajar sederhana, ruang pertemuan, serta kantor guru melalui swadaya dan dukungan CSR. Namun, keterbatasan dana membuat bangunan tersebut hanya terbuat dari papan dan kayu dengan lantai semen. Kondisi lingkungan sekitar sekolah pun kerap becek dan tergenang saat musim hujan tiba.

45 Siswa Menanti Ruang Kelas Baru yang Kering dan Nyaman

Saat ini, jumlah siswa di SMPN 4 Sitolu Ori telah meningkat menjadi 45 orang, terdiri dari 16 siswa kelas VII, 11 siswa kelas VIII, dan 18 siswa kelas IX. Mereka digembleng oleh lima guru ASN, enam guru PPPK, dan sebelas tenaga non-ASN. Meski fasilitas serba terbatas, semangat belajar tidak pernah surut.

Keterbatasan itu dirasakan langsung oleh Electra Stefani Harefa, siswa kelas IX. Sejak pertama masuk pada 2024, ia belum pernah merasakan belajar di gedung sekolah permanen. Suasana belajar sering kali terganggu ketika hujan turun.

"Kami kurang nyaman saat musim hujan karena lingkungan sekolah becek dan banyak nyamuk yang mengganggu saat belajar," ungkap Electra.

Kebahagiaan pun tak bisa disembunyikan oleh Electra setelah mengetahui sekolahnya bakal segera memiliki gedung permanen. "Bapak Gubernur, terima kasih atas perhatian Bapak di sekolah kami ini. Semoga Bapak selalu diberikan kesehatan dan kebijaksanaan dalam memimpin Sumatera Utara," ujarnya.

Fasilitas Baru dan Harapan yang Masih Menanti

Melalui dana BKP tersebut, pembangunan gedung baru mencakup tiga ruang kelas lengkap dengan perabotannya, ruang administrasi yang terdiri dari ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang tata usaha, dan ruang tamu. Tersedia pula fasilitas sanitasi berupa toilet laki-laki, toilet perempuan, dan toilet khusus difabel.

Meski gedung baru segera terwujud, Teti Gea mengungkapkan masih ada sejumlah kebutuhan mendesak lainnya. Pihak sekolah berharap pemerintah dapat membantu pengadaan laboratorium, perpustakaan, akses internet, serta perangkat komputer dan laptop untuk menunjang proses pembelajaran.

"Kami berharap ke depan ada bantuan laboratorium, perpustakaan dan akses jalan. Karena anak-anak di sini banyak yang berjalan kaki cukup jauh setiap hari," tutur Teti.

Diketahui, sebagian siswa harus berjalan kaki sejauh dua hingga lima kilometer untuk sampai ke sekolah. Bahkan, ada yang berangkat sejak pukul 06.00 WIB pagi demi mengejar jam masuk sekolah. Kondisi akses jalan menuju sekolah yang masih rusak pun menjadi pekerjaan rumah tersendiri yang turut disuarakan para guru dan wali murid.

Reporter: Khairunas Ibrahim
Sumber: disrupsi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top