SUMATERA UTARA — Laporan keuangan perusahaan menunjukkan tren positif di tengah tantangan bisnis kontraktor tambang. Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim, menyebut berbagai langkah perbaikan yang dijalankan selama setahun terakhir mulai membuahkan hasil nyata, terutama dalam hal produktivitas alat berat.
Perusahaan mencatat penurunan waktu henti (downtime) alat sebesar 11 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Kepatuhan terhadap jadwal pemeliharaan juga hampir dua kali lipat menjadi 46 persen, dari sebelumnya hanya 25 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Perbaikan kualitas pemeliharaan ini berdampak langsung pada keandalan alat. Rata-rata waktu antar kerusakan (MTBS) naik 22 persen secara kuartalan, sementara waktu perbaikan alat (MTTR) turun 18 persen menjadi 7,5 jam. Hasilnya, jam kerja alat per unit meningkat 17 persen.
“Peningkatan EBITDA, perbaikan margin, dan penguatan arus kas bebas menunjukkan bahwa berbagai langkah yang telah kami jalankan selama setahun terakhir di seluruh area operasional, optimalisasi tenaga kerja, dan pemeliharaan, telah memberikan hasil,” ujar Iwan dalam keterangan resmi, Sabtu (1/7).
Kondisi musim kemarau turut berperan penting. Berkurangnya gangguan akibat hujan dan jalan licin membuat produktivitas alat meningkat, ditandai kenaikan volume pengupasan tanah (BCM) per jam sebesar 2 persen dibandingkan kuartal II 2025.
Di lokasi tambang terbesar Grup di Indonesia, waktu siklus alat tercatat 4 persen lebih singkat. Perbaikan kondisi jalan tambang, pengelolaan lalu lintas, dan koordinasi dispatch yang lebih efektif menjadi kunci utama. Waktu nonproduktif per unit juga berhasil ditekan hingga 8 persen.
Meski kinerja kuartal II membaik, akumulasi produksi semester pertama 2026 masih terkoreksi. Total pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) tercatat 186 juta BCM, turun 11 persen dibandingkan semester pertama 2025. Produksi batu bara juga turun 16 persen menjadi 32 juta ton.
Penurunan ini dipengaruhi berakhirnya kontrak di site Binungan milik Berau Coal, site IBP milik Resource Alam Indonesia, serta site Burton milik Bowen Coking Coal di Australia. Namun, di luar lokasi yang kontraknya berakhir, operasi inti BUMA justru tumbuh: volume overburden removal naik sekitar 9 persen dan produksi batu bara naik 4 persen.
Memasuki semester kedua 2026, perusahaan akan fokus pada peningkatan kinerja operasional, menjaga disiplin biaya, serta mengelola eksposur harga bahan bakar untuk memperkuat arus kas dan keberlanjutan bisnis.