SUMATERA UTARA — Karier PGone di industri hiburan Tiongkok berakhir dalam hitungan hari setelah video mesranya dengan Li Xiaolu, istri dari sahabat dekatnya Jia Nailiang, tersebar luas di media sosial. Rapper yang sempat dijuluki salah satu talenta paling menjanjikan itu kini berjuang melunasi utang dan mencoba bertahan dengan tampil di luar negeri.
Lembaga manajemen budaya Tiongkok secara resmi memasukkan PGone ke dalam daftar artis yang dianggap tidak pantas menjadi panutan publik. Konsekuensinya langsung terasa: penyelenggara acara membatalkan penampilannya, merek-merek memutus kontrak iklan, dan poster promosinya ditutup di ruang publik.
Seluruh lagu sang rapper juga menghilang dari platform streaming utama seperti QQ Music, NetEase Music, dan Xiami Music karena dianggap mengandung konten tidak pantas. Selain kehilangan sumber pendapatan, PGone dilaporkan harus membayar kompensasi 1,5 juta dolar AS kepada mitra bisnisnya. Skandal ini turut mempercepat pembubaran Hong Hua Hui, grup rap yang pernah dipimpinnya.
Setelah menghapus seluruh unggahan media sosialnya dan kembali ke kampung halaman, PGone sempat mencoba bangkit pada Agustus 2019. Ia tampil di sebuah klub malam di Xi'an, namun pertunjukannya hanya berlangsung sekitar 10 menit sebelum ia dipaksa turun panggung. Pemilik klub bahkan meminta penonton tidak mengunggah video acara tersebut karena khawatir berurusan dengan pihak berwenang.
Percobaan kedua dilakukan pada April 2026. PGone membuat akun media sosial baru bernama Wang Weichu Chos1npm Studio untuk merilis trailer lagu anyarnya. Video itu langsung menuai protes dari pengguna dan akunnya ditangguhkan kurang dari 24 jam setelah dibuat.
Sohu melaporkan bahwa kondisi mental dan kesehatan PGone menurun drastis pasca-skandal. Ia beberapa kali terlihat kelelahan dan menundukkan kepala saat makan di restoran. Sejumlah saksi menyebut rapper itu sempat menangis ketika menyadari orang-orang di sekitarnya membicarakan kasusnya.
Dengan peluang comeback di industri hiburan Tiongkok yang nyaris tertutup, PGone kini beralih ke bisnis online dan menerima tawaran pentas di Amerika Utara, Australia, Inggris Raya, dan Malaysia. Pendapatan dari pertunjukan itu digunakan untuk membayar utang dan biaya hidupnya.
Kasus PGone menjadi pengingat keras bagi industri hiburan Asia akan konsekuensi moral yang dijatuhkan kepada publik figur. Berbeda dengan kasus serupa di negara lain yang pelakunya bisa kembali berkarir setelah jeda, regulasi ketat Tiongkok membuat pemulihan reputasi hampir mustahil dilakukan.