Kasus yang diajukan Saflor, yang dikenal dengan nama pena Superelmer, menargetkan model bisnis sekaligus teknologi yang digunakan oleh Memes.ai dan Memes AI Studio. Dalam gugatannya, ia mengklaim platform tersebut menawarkan salinan komik "Running Away Balloon" kepada pelanggan yang membayar paket langganan 40 dolar AS dan 199 dolar AS per bulan. Komik sederhana bergaya kartun itu—menampilkan seorang pria mengejar balon kuning bertuliskan "peluang" sementara karakter pink berbentuk gumpalan bernama "rasa malu" menahannya—telah menjadi template meme populer di internet.
Perbedaan mendasar yang ditekankan Saflor adalah antara penggunaan non-komersial dan komersial. Ia mengaku tidak pernah mempermasalahkan warganet yang membuat ulang atau menambahkan teks sendiri pada komiknya untuk bersenang-senang. "Melihat orang membuat ulang dan menafsirkannya ulang adalah bagian dari apa yang membuat komik ini spesial," ujarnya kepada Ars Technica.
Namun, situasi berubah ketika perusahaan menjadikan karya tersebut sebagai produk berbayar. "Popularitas meme tidak menghapus hak cipta penciptanya," tegas Saflor. Ia khawatir praktik ini bisa menjadi preseden berbahaya, terutama ketika alat AI makin memudahkan produksi dan distribusi konten dalam jumlah besar.
Yang membuat kasus ini unik adalah klaim bahwa sistem AI milik Memes Apps tidak sekadar menghasilkan variasi, melainkan mereproduksi gambar asli secara identik. Eric Goldman, pakar hukum internet, menilai situasi ini jauh lebih serius dibandingkan gugatan AI pada umumnya. "Ketika pemilik hak cipta bisa menunjukkan bukti keluaran yang identik, kasusnya menjadi jauh lebih berisiko tinggi bagi pihak tergugat," kata Goldman.
Jika terbukti, ini bisa menjadi senjata ampuh bagi Saflor. Sebab, dalam banyak sengketa hak cipta AI, perusahaan kerap berlindung di balik argumen bahwa hasil karya AI sudah cukup "bertransformasi" sehingga tidak melanggar hukum.
Namun, Goldman mengingatkan bahwa kasus ini tidak sesederhana kelihatannya. Saflor memilih menggugat platform, bukan pengiklan yang mungkin menggunakan gambar tersebut. Strategi ini, menurut Goldman, bisa menimbulkan dilema hukum lain tergantung bagaimana pengadilan memandang dampak putusan terhadap generator meme lain.
Model langganan yang ditawarkan Memes Apps juga berpotensi menjadi titik lemah. "Akses template dalam paket berlangganan bisa menjadi kelemahan serius, kecuali perusahaan bisa membuktikan praktik itu lazim di industri generator meme," ujar Goldman. Ia menambahkan, masalah penggunaan meme untuk tujuan komersial sebenarnya sudah berulang kali muncul, seperti dalam kasus meme "SuccessKid" pada 2024, di mana pengadilan memutuskan gambar tersebut tidak boleh digunakan dalam iklan kampanye tanpa izin.
Satu pertanyaan besar yang belum terjawab adalah seberapa besar kerugian finansial yang diderita Saflor. Ars Technica belum bisa memastikan apakah komiknya benar-benar muncul di iklan mana pun. Saflor sendiri mengaku belum melihat langsung iklan yang menggunakan karyanya dan tidak menghubungi perusahaan sebelum mengajukan gugatan. Ia ingin kasus ini memaksa perusahaan mengungkapkan seberapa sering komiknya digunakan.
Yang jelas, Saflor menegaskan bahwa ia bukan anti-AI. "Saya menggunakan alat AI dalam pekerjaan saya sendiri," katanya. "Masalah saya adalah bagaimana perusahaan menerapkannya." Ia menyoroti klaim pemasaran platform yang menyuruh pengguna "pecat agensi iklan Anda" sebagai contoh penyalahgunaan.
Gugatan ini menjadi pengingat bagi para kreator Indonesia: di era di mana konten viral bisa dengan mudah dikomersialkan oleh pihak ketiga, perlindungan hukum atas karya digital masih terus diuji oleh batas kabur antara budaya berbagi dan eksploitasi bisnis.