JAKARTA — Rupiah dibuka melemah signifikan pada awal pekan ini. Berdasarkan data Antara, kurs rupiah turun 0,14 persen atau 25 poin menjadi Rp18.090 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di angka Rp18.065 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan, pelemahan rupiah kali ini tidak terlepas dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. “Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kembali meningkatnya tensi geopolitik di Timteng yang menyebabkan lonjakan pada harga minyak mentah dunia,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Ketegangan regional meningkat drastis dalam beberapa hari terakhir. Iran mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah situs militer AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, dan Oman. Aksi ini merupakan respons atas serangan AS terhadap target-target Iran sebelumnya.
Amerika Serikat langsung merespons dengan melakukan serangan balik di beberapa wilayah selatan Iran pada Senin pagi. Stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, melaporkan beberapa ledakan terdengar di Bandar Abbas, Sirik, Pulau Qeshm, dan Jask—semuanya berada di provinsi Hormozgan. Kantor Berita Mehr juga mengonfirmasi adanya ledakan di kota-kota selatan Bushehr dan Kangan.
Di tengah hiruk-pikuk geopolitik, pelaku pasar juga menanti data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Inflasi bulan Juni AS diperkirakan akan dirilis besok dan diproyeksikan turun 0,1 persen secara bulanan serta dari 4,2 persen menjadi 3,9 persen secara tahunan.
Data tersebut akan menjadi sinyal bagi pasar mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan. Kombinasi antara ketegangan perang dan data makro ini membuat pergerakan rupiah masih rentan terhadap tekanan.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, para analis memprediksi rupiah akan bergerak dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS dalam waktu dekat. Investor disarankan untuk mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah yang bisa berubah secara tiba-tiba dan memicu volatilitas pasar keuangan global.