SUMATERA UTARA — Animasi Upin & Ipin, Papa Zola, dan BoboiBoy sudah lama menemani anak-anak Indonesia di layar kaca. Kesuksesan karya lintas negara itu kini dibidik sebagai pintu masuk kerja sama ekonomi kreatif Indonesia-Malaysia, dari animasi dan film sampai musik. Apa saja peluang yang terbuka untuk para pelaku industri kreatif?
Pandangan itu disampaikan Riefky saat menerima Menteri Komunikasi Malaysia, Datuk Ahmad Fahmi Bin Mohamed Fadzil. Pertemuan berlangsung di sela acara bilateral 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (21/10).
Animasi Malaysia yang Akrab di Rumah Indonesia
Upin & Ipin bukan nama asing bagi keluarga Indonesia. Serial kartun ini sudah bertahun-tahun menemani anak-anak di jam tayang televisi maupun platform digital.
Papa Zola dan BoboiBoy melengkapi daftar animasi Malaysia yang digemari anak Indonesia. Bagi orang tua, deretan tayangan ini jadi bukti bahwa karya kreatif bisa diterima lintas generasi dan lintas negara.
Mengapa Kerja Sama Ini Penting untuk Pelaku Kreatif
Riefky melihat kedekatan budaya kedua negara sebagai modal yang bisa dimanfaatkan langsung. Kerja sama tidak berhenti di animasi, tetapi juga merambah film hingga musik.
“Kita melihat karya-karya kreatif dari kedua negara kita sudah melintasi batas negara. Upin & Ipin serta Papa Zola, sukses di pasar Indonesia dan digemari oleh anak-anak kita,” kata Teuku Riefky dalam keterangannya.
Bagi ibu yang punya anak hobi menggambar, menulis cerita, atau bermain musik, peluang ini relevan. Pasar karya kreatif anak dan keluarga di kawasan ASEAN terbuka makin lebar.
Langkah Malaysia yang Bisa Jadi Pembanding
Malaysia mengembangkan industri kreatif lewat MyCreative Ventures dan Perbadanan Kemajuan Filem Nasional Malaysia (FINAS). Dua lembaga itu menangani pendanaan hingga pengembangan film nasional.
Upaya tersebut dinilai sejalan dengan agenda Indonesia memperkuat industri kreatif nasional. Artinya, arah kebijakan kedua negara bisa saling melengkapi, bukan bersaing.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua
Dukungan pada industri kreatif tidak harus lewat jalur formal. Mengenalkan anak pada animasi, film, dan musik dari berbagai negara bisa jadi langkah awal menumbuhkan rasa percaya diri berkarya.
Orang tua juga bisa mendorong anak mengikuti lomba menggambar, menulis cerita, atau bermain alat musik di sekolah dan komunitas. Kebiasaan kecil seperti ini yang nantinya menyiapkan generasi pelaku kreatif Indonesia.
Yang Perlu Diperhatikan
Konsumsi tayangan anak tetap perlu pendampingan. Ibu bisa memilih animasi yang sesuai usia dan mendiskusikan ceritanya bersama anak setelah menonton.
Untuk yang ingin serius di industri kreatif, pantau informasi resmi dari Kementerian Ekonomi Kreatif soal program pendampingan dan peluang kolaborasi lintas negara.
Dari layar kaca ke panggung musik, karya kreatif Indonesia dan Malaysia punya ruang tumbuh yang luas. Rumah adalah tempat pertama anak belajar mencintai karya, dan orang tua memegang peran di sana.