MEDAN — Fariz menyebut selisih produksi dan kebutuhan beras bulan itu mencapai angka positif, dengan produksi beras sekitar 144.066 ton berbanding kebutuhan 116.433 ton. "Kebutuhan beras Oktober sebesar 116.433 ton. Produksi beras sekitar 144.066 ton," kata Fariz di hadapan wartawan.
Surplus tidak hanya terjadi pada beras. Sejumlah komoditas hortikultura dan peternakan Sumut juga mencatat produksi di atas kebutuhan warga.
Produksi cabai merah tercatat 14.213 ton dengan kebutuhan 9.855 ton. Cabai rawit mencapai 7.594 ton, sementara kebutuhan hanya 3.712 ton.
Berbeda dengan dua komoditas itu, bawang merah masih defisit. Produksi setara umbi basah 5.021 ton atau 3.306 ton dalam kondisi kering, sedangkan kebutuhan mencapai 5.353 ton.
Sektor peternakan menunjukkan neraca positif di hampir semua lini. Produksi daging sapi 1.773 ton dengan kebutuhan 891 ton, daging ayam ras 20.383 ton dengan kebutuhan 16.037 ton.
Telur ayam ras mencatat selisih paling besar. Produksi mencapai 53.810 ton, sedangkan kebutuhan 20.491 ton.
Pemprovsu menjalankan intervensi produktivitas melalui Program Strategis Daerah (PSD). "Untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian, Pemprovsu melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan pun melakukan intervensi. Intervensi ini masuk ke dalam bagian Program Strategis Daerah (PSD)," ujar Fariz.
Skema PSD memusatkan intervensi pada satu hamparan yang dikelola satu kelompok tani. Setiap kawasan menerima paket bantuan penuh, dengan BUMD berperan sebagai offtaker hasil panen.
Komoditas yang digarap mencakup padi, jagung, cabai merah, bawang merah, sapi potong, serta rumah produksi kelapa dan kopi.
Kawasan padi tersebar di 10 titik dengan total luas 300 hektare. Panen baru berlangsung di 44,5 hektare dengan produksi 327,95 ton.
Kawasan jagung mencakup 13 kawasan seluas 260 hektare. Panen telah dilakukan di 43 hektare dan menghasilkan 345,6 ton.
Untuk cabai merah, 15 kawasan seluas 60 hektare disiapkan. Enam kawasan seluas 24 hektare sudah panen dengan produksi 264 ton.
"Kawasan cabai merah terdiri dari 15 kawasan seluas 60 hektare. Enam kawasan seluas 24 hektare sudah panen dengan produksi 264 ton, kawasan bawang merah terdiri dari 16 kawasan seluas 48 hektare. Enam kawasan seluas 18 hektare sudah panen dengan produksi 299,4 ton," papar Fariz.
Empat kawasan sapi potong di Simalungun, Serdangbedagai, Asahan, dan Labuhanbatu belum berproduksi. Konstruksinya ditargetkan selesai pada minggu pertama Desember 2026.
Setiap kawasan akan menerima sekitar 150 ekor sapi, terdiri dari 120 ekor untuk penggemukan dan 30 ekor untuk pengembangbiakan.
Rumah produksi kelapa di Nias Utara sudah mencapai progres 80% dan ditargetkan rampung 6 November 2026. Tiga rumah produksi kopi — satu di Humbang Hasundutan dan dua di Tapanuli Utara — ditargetkan selesai pada November 2026.
Pengembangan kawasan itu diharapkan menopang produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat Sumut.