SUMATERA UTARA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengidentifikasi karhutla di Kalimantan berpotensi menekan kinerja perbankan melalui pelemahan sektor pertanian, perkebunan, dan perdagangan. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan stress test rutin dilakukan untuk mengantisipasi risiko tersebut.
"Dalam rangka monitoring, stress test dilakukan secara rutin, baik oleh OJK maupun oleh perbankan secara mandiri," kata Dian dalam jawaban tertulis, Senin (21/9/2026).
Berdasarkan pemetaan OJK, setidaknya ada enam sektor ekonomi yang berpotensi mengalami penurunan kinerja akibat karhutla. Sektor-sektor ini menjadi perhatian utama karena keterkaitannya dengan aktivitas ekonomi di wilayah terdampak.
Dian menekankan bahwa identifikasi dini terhadap kondisi tersebut menjadi kunci agar OJK dan perbankan dapat menyiapkan langkah mitigasi yang tepat. Upaya ini mencakup antisipasi terhadap potensi kenaikan kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di wilayah yang terdampak karhutla.
Secara historis, karhutla di Kalimantan tidak hanya merusak ekosistem hutan, tetapi juga menimbulkan kerugian aset dan menurunkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar. Dampak langsung berupa kerusakan hutan dan ekosistem di dalamnya memperparah kondisi sosial-ekonomi warga yang menggantungkan hidup dari sektor berbasis lahan.
Bagi perbankan, kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kredit macet, terutama pada debitur yang bergerak di sektor perkebunan dan pertanian skala kecil hingga menengah. Penurunan kapasitas produksi debitur akan berdampak pada kemampuan mereka memenuhi kewajiban cicilan.
OJK menegaskan bahwa stress test yang dilakukan secara berkala, baik oleh regulator maupun internal bank, menjadi instrumen utama untuk mengidentifikasi kondisi yang perlu diwaspadai. Hasil pengujian ini memungkinkan perbankan menyiapkan mitigasi risiko yang terukur, termasuk penyesuaian pencadangan kredit dan restrukturisasi bagi debitur terdampak.
Langkah antisipasi tersebut penting mengingat karhutla dapat berdampak berantai pada perekonomian regional. Gangguan pada sektor riil berpotensi menekan permintaan kredit sekaligus meningkatkan risiko gagal bayar di daerah yang terdampak paling parah.
Dian menyatakan OJK terus memantau perkembangan karhutla dan dampaknya terhadap industri perbankan. Koordinasi dengan perbankan dilakukan agar langkah mitigasi dapat dijalankan secara cepat dan tepat sasaran.
Perbankan yang memiliki eksposur kredit besar di wilayah Kalimantan perlu mencermati portofolio debitur di sektor-sektor rentan. Penguatan pencadangan dan pemantauan berkala terhadap debitur terdampak menjadi langkah yang dinilai krusial untuk menjaga stabilitas kinerja keuangan bank.