SUMATERA UTARA — Transformasi bisnis PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mulai menunjukkan hasil nyata. Pada paruh pertama 2026, pendapatan dari lini usaha non-batu bara—pengelolaan limbah dan ekosistem kendaraan listrik—tumbuh signifikan dan menjadi penopang utama kinerja keuangan perseroan.
Berdasarkan laporan kinerja yang dirilis Jumat (28/8/2026), pendapatan konsolidasi TBS tercatat relatif stabil di angka USD173 juta. Namun, komposisinya berubah drastis. Jika sebelumnya batu bara menjadi primadona, kini kontribusinya menyusut drastis seiring langkah perseroan yang sepenuhnya keluar dari bisnis pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU).
Laba kotor perseroan melonjak menjadi USD28,2 juta pada semester I-2026, dibandingkan USD13,9 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan profitabilitas ini terjadi meskipun pendapatan top-line tidak banyak berubah, menandakan efisiensi dan margin yang lebih sehat dari bisnis baru.
Perubahan struktur ini bukan tanpa konsekuensi. Sepanjang periode tersebut, TBS tercatat telah memangkas aktivitas perdagangan batu bara hingga sekitar dua pertiga secara tahunan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perseroan untuk meninggalkan bisnis berbasis fosil secara bertahap.
Keputusan untuk keluar dari bisnis PLTU dan mengurangi porsi batu bara menunjukkan komitmen TBS terhadap transisi energi. Fokus perseroan kini diarahkan pada dua sektor yang diyakini memiliki prospek pertumbuhan kuat di Indonesia: pengelolaan limbah dan ekosistem kendaraan listrik.
Pergeseran ini juga mencerminkan tren lebih luas di industri energi nasional, di mana perusahaan-perusahaan besar mulai merespons tekanan global untuk mengurangi emisi karbon. Bagi TBS, diversifikasi ke bisnis berkelanjutan menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang di tengah ketidakpastian harga komoditas.
Dengan portofolio yang kini didominasi bisnis non-batu bara, TBS optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan laba pada paruh kedua 2026. Keberhasilan transisi ini akan menjadi ujian apakah model bisnis energi bersih mampu menggantikan pendapatan dari komoditas secara berkelanjutan.