SUMATERA UTARA - Sejarah istana maimun tidak bisa dipisahkan dari perjalanan Kesultanan Deli, pertumbuhan Medan sebagai pusat pemerintahan, serta perubahan besar di Sumatera Timur pada penghujung abad ke-19.
Bangunan berwarna kuning yang berdiri di Jalan Brigjen Katamso ini bukan sekadar peninggalan kerajaan, melainkan saksi ketika perdagangan, perkebunan, politik kolonial, dan kebudayaan Melayu bertemu dalam satu ruang.
Pembangunannya dimulai pada 26 Agustus 1888 atas perintah Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah dan selesai pada 18 Mei 1891.
Hingga sekarang, sejarah istana maimun tetap menarik karena setiap bagian bangunannya menyimpan lapisan cerita tentang masa kejayaan Kesultanan Deli dan lahirnya Medan modern.
Sebelum melihat kemegahan bangunannya, penting memahami kondisi politik dan ekonomi yang melatarbelakangi pembangunannya.
Istana Maimun lahir ketika Kesultanan Deli sedang berada dalam fase penting. Sultan Ma'mun Al Rasyid, yang memerintah sejak 1873, berada pada masa ketika kawasan Deli berkembang pesat seiring meningkatnya aktivitas perkebunan, terutama tembakau. Hasil perkebunan tersebut membuat wilayah Sumatera Timur semakin terhubung dengan jaringan perdagangan internasional.
Pembangunan istana di lokasi yang lebih dekat dengan pusat perkembangan kota menunjukkan bahwa istana tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan.
Bangunan tersebut juga menjadi simbol bahwa Kesultanan Deli memiliki pusat kekuasaan yang sesuai dengan perubahan zaman.
Portal Pemerintah Kota Medan mencatat bahwa setelah pembangunan Istana Maimun selesai pada 18 Mei 1891, pusat Kesultanan Deli pun semakin terkait dengan perkembangan Medan sebagai ibu kota Deli.
Sosok Sultan Ma'mun Al Rasyid menjadi bagian penting dalam memahami alasan Istana Maimun dibangun dengan skala yang begitu besar.
Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah merupakan Sultan Deli ke-IX. Pemerintahannya berlangsung pada 1873–1924, periode panjang yang mencakup masa pertumbuhan ekonomi perkebunan di Sumatera Timur.
Sumber Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyebut bahwa pada masa pemerintahan Sultan tersebut, Kesultanan Deli mencapai puncak kejayaan dan masyarakat memperoleh kemakmuran dari perkebunan tembakau.
Tembakau Deli memiliki reputasi tinggi di pasar internasional. Perkembangan perkebunan menarik modal, pekerja, serta infrastruktur baru ke kawasan Medan dan sekitarnya.
Akibatnya, lanskap sosial Sumatera Timur mengalami perubahan.
Indonesia Travel juga mengaitkan pembangunan Istana Maimun dengan kemakmuran Kesultanan Deli yang didorong perkebunan tembakau.
Dengan demikian, kemegahan istana dapat dibaca sebagai bagian dari konteks ekonomi pada zamannya, bukan sekadar keputusan estetika.
Detail tanggal pembangunan membantu memperjelas perjalanan bangunan yang sekarang menjadi ikon Medan.
Pembangunan dimulai pada 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891. Artinya, proses pengerjaan berlangsung hampir tiga tahun.
Indonesia Travel menyebut arsitek yang merancang bangunan tersebut adalah Antonio Fiore, seorang arsitek asal Italia.
Keterangan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga menyebut adanya prasasti pendirian yang menggunakan tulisan Arab dan Belanda.
Prasasti tersebut menjadi salah satu bukti fisik yang menghubungkan bangunan dengan konteks pemerintahan Kesultanan Deli pada masa tersebut.
Rangkaian tanggal tersebut penting karena menempatkan Istana Maimun dalam konteks sejarah yang jelas, bukan sekadar sebagai bangunan tua yang usianya sudah lebih dari satu abad.
Keunikan Istana Maimun justru terlihat ketika unsur-unsur arsitekturnya diperhatikan lebih dekat.
Bangunan ini sering disebut sebagai contoh pertemuan berbagai tradisi arsitektur. Dinas Pariwisata Kota Medan menyebut adanya perpaduan Melayu, Islam, India, Spanyol, dan Eropa.
Sementara materi Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyebut pengaruh Melayu-Islam, Spanyol, India, dan Italia.
Warna kuning menjadi ciri visual paling mudah dikenali.
Dalam tradisi Melayu, kuning memiliki hubungan dengan simbol kebesaran dan lingkungan kerajaan. Karena itu, warna tersebut bukan sekadar pilihan dekorasi.
Ketika memasuki kawasan istana, warna kuning membuat bangunan langsung berbeda dari lingkungan perkotaan di sekitarnya. Identitas visual tersebut kemudian melekat kuat pada citra Kesultanan Deli.
Materi Badan Bahasa menjelaskan adanya jendela dan pintu berukuran lebar dengan pengaruh Eropa.
Pada bagian atap terdapat bentuk lengkung yang dikaitkan dengan pengaruh arsitektur Islam dan Timur Tengah.
Perpaduan tersebut menunjukkan bahwa arsitektur istana bukan hasil dari satu gaya yang berdiri sendiri.
Ia justru menggambarkan situasi Deli ketika kebudayaan Melayu berinteraksi dengan dunia Islam, Eropa, India, serta jaringan kolonial.
Istana Maimun memiliki struktur yang cukup luas untuk ukuran bangunan kerajaan yang dibangun pada akhir abad ke-19.
Menurut laporan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, bangunan tersebut menempati lahan sekitar 2.772 meter persegi dan memiliki 30 ruangan. Struktur utamanya terdiri atas bangunan induk, sayap kiri, dan sayap kanan.
Bagi pengunjung, bagian interior sering kali menjadi titik yang paling mudah memperlihatkan bagaimana identitas Melayu dipadukan dengan gaya Eropa.
Istana tidak berdiri dalam ruang kosong. Perkembangan Medan ikut mengubah makna bangunan tersebut.
Pada akhir abad ke-19, Medan tumbuh sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan. Dinas Pariwisata Kota Medan mencatat bahwa pemindahan berbagai pusat administrasi ke Medan ikut mendorong pertumbuhan kota.
Pada 1879 ibu kota Asisten Residen Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan, lalu pada 1 Maret 1887 ibu kota Residen Sumatera Timur juga dipindahkan dari Bengkalis ke Medan.
Dengan latar tersebut, Istana Maimun menjadi bagian dari perubahan geografis kekuasaan.
Perjalanan tersebut membuat istana memiliki dua identitas sekaligus: peninggalan Kesultanan Deli dan simbol Kota Medan.
Tidak semua cerita yang melekat pada Istana Maimun berasal dari dokumen sejarah formal. Sebagian hadir melalui tradisi lisan dan legenda.
Salah satu yang paling dikenal adalah Meriam Puntung. Pemerintah Kota Medan mencatat legenda Putri Hijau yang berkaitan dengan konflik antara Kesultanan Deli lama dan Kesultanan Aceh.
Dalam cerita tersebut, salah satu saudara Putri Hijau berubah menjadi naga dan saudara lainnya menjelma menjadi meriam yang membantu melawan pasukan Aceh.
Pemisahan antara fakta sejarah dan legenda bukan berarti legenda harus diabaikan. Justru keduanya dapat dibaca berdampingan untuk memahami bagaimana sebuah masyarakat menjaga ingatan kolektif.
Salah satu hal menarik adalah kedekatan Istana Maimun dengan Masjid Raya Al-Mashun.
Kompleks istana berada tidak jauh dari masjid yang kemudian dikenal sebagai Masjid Raya Medan. Kedekatan geografis tersebut memperlihatkan hubungan antara pusat kekuasaan kerajaan dan kehidupan keagamaan.
Kawasan ini pada akhirnya membentuk salah satu koridor sejarah paling penting di Medan. Dalam satu perjalanan, jejak Kesultanan Deli dapat dibaca melalui bangunan kerajaan, masjid, jalan kota, serta perkembangan kawasan pusat Medan.
Bangunan yang dahulu merupakan pusat kekuasaan kini memiliki fungsi yang berbeda.
Dinas Pariwisata Kota Medan mencatat Istana Maimun sebagai destinasi wisata sejarah di Jalan Brigjen Katamso No. 66, Medan Maimun. Jam operasional yang tercantum adalah setiap hari pukul 08.00–17.00 WIB, dengan harga tiket yang tercantum sekitar Rp10.000–Rp15.000.
Informasi operasional dapat berubah, sehingga pengecekan sebelum berkunjung tetap bijaksana.
Dengan cara tersebut, kunjungan tidak berhenti pada aktivitas berfoto.
Pembangunan dimulai pada 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891.
Istana dibangun atas prakarsa Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah, Sultan Deli ke-IX. Arsiteknya disebut Antonio Fiore dari Italia.
Bangunannya memadukan unsur Melayu, Islam, India, Spanyol, dan Eropa/Italia.
Saat ini bangunan tersebut dikenal terutama sebagai objek wisata dan warisan budaya Kesultanan Deli. Sebagian kompleks dibuka untuk kunjungan publik.
Istana Maimun terasa istimewa bukan hanya karena warna kuningnya atau bentuk bangunannya yang megah.
Di balik dinding dan ornamen tersebut ada cerita tentang Sultan Ma'mun Al Rasyid, kemakmuran tembakau Deli, pertumbuhan Medan, perjumpaan berbagai kebudayaan, serta ingatan rakyat yang diwariskan melalui legenda.
Memahami sejarah istana maimun berarti membaca sebuah bangunan sebagai saksi perubahan zaman—dan dari sanalah kemegahannya terasa lebih hidup.
Sebuah nama ternyata dapat membawa perjalanan yang panjang. Dari Samudera dan berbagai bentuk pelafalannya, lalu menjadi Sumatra dan Sumatera, hingga akhirnya muncul Sumatera Utara sebagai nama sebuah provinsi pada masa Republik.
Di balik satu nama terdapat jalur perdagangan, kerajaan, perpindahan pusat kekuasaan, perubahan batas wilayah, dan keberagaman masyarakat.
Memahami asal usul nama sumatera utara pada akhirnya bukan hanya mencari arti sebuah kata, tetapi membuka pintu menuju sejarah panjang sebuah kawasan yang terus berubah tanpa kehilangan jejak masa lalunya.