BATU BARA — Rangkaian aksi diawali seminar daring pada 30 Juli 2026 yang membahas ekonomi biru, konservasi pesisir dan laut, serta pemberdayaan masyarakat berkelanjutan. Seminar menghadirkan perwakilan Badan Kesbangpol Sumut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut, aktivis lingkungan, serta sejumlah lembaga konservasi.
Direktur Yayasan Naluri Fauna Indonesia, Badar Johan, mengatakan melalui seminar ini peserta diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga ekosistem laut dan pesisir sekaligus mengembangkan ekonomi biru yang berkelanjutan.
Pada kegiatan lapangan, peserta bersama kelompok tani mangrove melakukan penanaman bibit mangrove dan aksi bersih pantai. Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pencemaran laut.
Badar menjelaskan mangrove memiliki fungsi penting dalam menjaga garis pantai, mengurangi abrasi, menjadi habitat berbagai biota, serta menyimpan karbon. Karena itu, pelestarian mangrove dinilai mendukung pengembangan blue carbon dan ekonomi biru berkelanjutan.
Peserta juga mengibarkan Bendera Merah Putih di laut sebagai simbol nasionalisme sekaligus pesan bahwa wilayah laut merupakan bagian dari kedaulatan Indonesia yang harus dijaga bersama. Selain itu, dilakukan transplantasi terumbu karang untuk mendukung rehabilitasi ekosistem laut.
Menurut Badar, terumbu karang memiliki fungsi ekologis dan ekonomi penting bagi kehidupan biota laut serta masyarakat pesisir. Kegiatan transplantasi diharapkan dapat mendukung pemulihan ekosistem sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga kawasan laut.
Kegiatan ini menempatkan bela negara tidak hanya dalam konteks pertahanan, tetapi juga melalui upaya menjaga sumber daya alam dan keanekaragaman hayati laut Indonesia.