MEDAN — Program pengentasan buta huruf di Lapas Kelas I Medan menyasar warga binaan yang masih membutuhkan pendampingan membaca dan menulis. Pembina kegiatan, Naik Amran Naibaho, mendampingi langsung seluruh peserta saat ujian berlangsung. Materi pembelajaran diberikan bertahap selama rangkaian pembinaan literasi dasar.
Jajaran Staf Bimbingan Kemasyarakatan Lapas Kelas I Medan menggandeng mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Sari Mutiara Medan. Pendekatan psikologis dipakai agar proses belajar terasa lebih nyaman bagi peserta. Interaksi yang dibangun mahasiswa membuat kegiatan tidak sekadar transfer materi.
Kehadiran mahasiswa memberi warna tersendiri dalam proses pembelajaran. Selain membantu peserta memahami materi, mereka menjaga suasana kelas tetap cair. Cara ini dinilai membuat warga binaan lebih terbuka selama mengikuti pelajaran.
Lapas menghadirkan keluarga para peserta saat ujian akhir digelar. Momen itu sempat mengharu-biru suasana Aula Moralitas. Orang-orang terdekat menjadi suntikan semangat bagi warga binaan untuk menunjukkan kemampuan membaca dan menulis yang sudah dipelajari.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, lancar, dan aman. Pelaksanaan program didokumentasikan sebagai bagian dari upaya menjaga transparansi dan akuntabilitas pelayanan serta pembinaan pemasyarakatan.
Kepala Lapas Kelas I Medan, Fonika Affandi, menyebut kemampuan literasi dasar sebagai bagian penting dalam proses pembinaan. Menurut dia, keterampilan itu menjadi bekal ketika warga binaan kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
"Kemampuan membaca dan menulis adalah hak dasar setiap individu sekaligus pondasi awal dalam proses pembinaan. Melalui program pengentasan buta huruf ini, kami ingin memastikan tidak ada warga binaan yang tertinggal. Kami berharap pengetahuan ini menjadi bekal berharga bagi mereka untuk membuka wawasan baru, membangun rasa percaya diri, dan menjadi pribadi yang lebih baik saat kembali ke tengah keluarga dan masyarakat," ujar Fonika Affandi.
Fonika menambahkan, pembinaan di lingkungan pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada masa menjalani pidana. Lapas juga menyiapkan warga binaan agar punya kemampuan dan kepercayaan diri menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat.
Program pengentasan buta huruf menjadi salah satu jalur pembinaan yang dijalankan Lapas Kelas I Medan bagi warga binaan dengan kebutuhan literasi dasar. Pelaksanaannya melibatkan staf internal lapas dan pihak kampus. Dokumentasi kegiatan disimpan sebagai bahan evaluasi program berikutnya.