SUMATERA UTARA — Sutradara asal Inggris Tony Kaye akan mengarahkan film pendek berjudul Will You Still Love Me Tomorrow? yang berlatar di antara patung monster raksasa di Leicester, Inggris. Film berdurasi lima menit itu memadukan dokumenter dan drama realitas, diproduseri Hiu Man Chan dari De Montfort University, dan mulai syuting pada Jumat ini.
Tony Kaye, sutradara di balik American History X (1998) dan Detachment (2011), resmi bergabung dengan proyek Will You Still Love Me Tomorrow?. Film pendek lima menit ini akan mengambil lokasi di Leicester Monsters, program pusat kota yang menempatkan patung makhluk berukuran raksasa di ruang publik Leicester.
Produksi film ini melibatkan aktor dan pembuat film muda dari De Montfort University serta komunitas kreatif Leicester. Hiu Man Chan, pengusaha film sekaligus akademisi industri kreatif di universitas tersebut, duduk sebagai produser.
Will You Still Love Me Tomorrow? dirancang lewat jalur eksperimental dan kolaboratif. Naratifnya akan terbentuk mengikuti para pemain dan peserta terpilih, dengan kamera merekam pertemuan-pertemuan spontan serta pengalaman manusia yang nyata.
Pertanyaan yang diangkat film ini sederhana: bisakah orang saling memahami dan mencintai di tengah perbedaan mereka? Louis Lingjaerde, yang sebelumnya menggarap Vipers, dipercaya sebagai sinematografer.
Kaye mengaku ide film ini bukan hal baru baginya. Empat dekade lalu ia membuat iklan bahan bakar padat yang menampilkan anjing, kucing, dan tikus saling mencium di depan perapian batu bara sungguhan, diiringi lagu "Will You Still Love Me Tomorrow."
"Sekarang, dengan film Leicester Monsters, saya mendapati diri kembali ke gagasan yang sama. Mungkin alam semesta adalah perapian batu bara yang sesungguhnya, dan kita semua hanyalah hewan yang berkumpul di sekitarnya, mencoba mencari cara untuk saling mencintai," kata Kaye.
Ia menambahkan, pertanyaan yang diangkat film ini sesederhana sekaligus mustahil: bagaimana semua orang bisa hidup rukun, selamanya?
Leicester kerap disebut sebagai salah satu kota paling beragam di Inggris. Keragaman itu akan dimanfaatkan film ini, dengan patung-patung raksasa muncul di penjuru kota sebagai latar surealis untuk membedah tarikan antara perbedaan dan rasa memiliki, antara kebebasan dan komitmen.
"Saya bergairah pada perasaan manusia paling penting, yaitu cinta, dalam bercerita, sekaligus mengemas proyek unik seperti ini untuk menantang pembuatan film konvensional. Saya menantikan perjalanan kreatif ini bersama Tony, salah satu talenta terhebat Inggris, dan menghidupkan kota Leicester," ujar Chan.
Patung-patung monster di Leicester dipasang oleh BID Leicester dan dikerjakan perusahaan asal Bristol, Designs in Air.
Nama Kaye melekat erat dengan American History X, film debutnya yang mengangkat rasisme dan penebusan. Edward Norton mendapat nominasi Oscar untuk kategori aktor terbaik lewat film itu.
Namun proses rilisnya penuh gejolak. Kaye berselisih dengan New Line Cinema dan Norton soal penyuntingan. Versi yang tayang di bioskop, hasil potongan yang turut dikerjakan Norton, lebih panjang ketimbang versi asli Kaye yang berdurasi 95 menit.
Kaye menghabiskan sekitar 100.000 dolar AS untuk puluhan iklan di media perdagangan Hollywood, sebagian menyerang Norton dan studio. Directors Guild of America menolak permintaannya mengganti kredit sutradara dengan nama samaran, termasuk "Humpty Dumpty." Kaye lalu menggugat guild dan New Line sebesar 200 juta dolar AS, namun gugatan itu ditolak pada 2000.
Ia kembali menyoroti perselisihan itu lewat Humpty Dumpty X, dokumenter 74 menit yang dirakit dari rekaman camcorder selama konflik, termasuk panggilan telepon dengan eksekutif studio. Film itu juga menampilkan Marlon Brando dan tayang perdana di seksi Spotlight Documentary Tribeca Festival tahun ini.
Di luar film layar lebar, Kaye dikenal lewat karya musik video dan iklan, mulai dari "Kick It" untuk Nike, "Twister" untuk Volvo, "Tested for the Unexpected" untuk Dunlop, sejumlah kampanye InterCity untuk British Rail, hingga "Furry Friends" untuk bahan bakar padat.
Will You Still Love Me Tomorrow? menempatkan Kaye di jalur produksi berskala kecil dengan pendekatan dokumenter, sebuah langkah yang jarang ia ambil setelah bertahun-tahun berkarya di iklan dan film independen.