MEDAN — Sumatera Utara sebelumnya mendeteksi dua titik api karhutla di Kabupaten Asahan dan Kabupaten Samosir sekitar satu setengah bulan lalu. Kedua titik itu sudah dipadamkan lewat kerja sama masyarakat bersama TNI, BPBD, Manggala Agni, dan Dinas LHK.
Heri menegaskan, data BMKG pada hari yang sama tidak menemukan lagi titik api di Sumut. "Berdasarkan data BMKG hari ini, tidak ada lagi titik api di Sumatera Utara. Wilayah kita relatif aman bersama Aceh," ujarnya.
Meski hotspot nihil, kabut asap dan penurunan kualitas udara masih dirasakan warga. Pergerakan angin dari luar daerah disebut membawa asap hingga masuk ke wilayah Sumut.
Heri menyatakan, fenomena asap yang merambah hingga warga kembali memakai masker dipicu oleh pergerakan angin dari daerah luar. "Namun, fenomena asap yang merambah ke wilayah kita hingga warga kembali harus memakai masker dipicu oleh pergerakan angin dari daerah luar," kata dia.
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi secara nasional saat ini didominasi kebakaran di kawasan gambut. Sejumlah wilayah yang mengalami kondisi tersebut meliputi Kalimantan, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, dan Riau.
Lahan gambut yang mengering akibat cuaca ekstrem berpotensi meningkatkan risiko kebakaran. Kondisi itu membuat api lebih sulit dipadamkan dan menghasilkan asap pekat.
Karakteristik gambut berbeda dari kawasan hutan lainnya. Karena itu, Heri menyambut baik langkah Pemerintah Pusat membentuk badan khusus untuk menangani dan merehabilitasi ekosistem mangrove serta gambut.
Pemantauan titik api di Sumut tetap dilakukan bersama BMKG, BPBD, Manggala Agni, dan Dinas LHK. Warga diminta tetap waspada terhadap penurunan kualitas udara meski tidak ada hotspot baru di provinsi ini.