SUMATERA UTARA — Laporan keuangan kedua perusahaan yang dirilis pekan lalu menunjukkan dampak langsung eskalasi geopolitik Timur Tengah terhadap industri energi global. Konflik yang membatasi pasokan dari kawasan tersebut telah mendorong harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 40% sepanjang tahun ini.
Keuntungan ExxonMobil sebesar US$ 160 juta atau sekitar Rp 2,8 triliun per hari pada kuartal II-2026 merupakan pencapaian tertinggi sejak awal perang Rusia-Ukraina pada 2022. Angka itu dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Chevron mencatatkan pertumbuhan laba yang lebih agresif. Perusahaan minyak terbesar kedua di AS ini membukukan peningkatan empat kali lipat dari US$ 2,5 miliar menjadi US$ 12,1 miliar secara year-on-year.
Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menjelaskan bahwa dunia telah kehilangan sekitar 6-7 juta barel kapasitas penyulingan per hari akibat gangguan pasokan. Kondisi ini membuat kilang yang masih beroperasi memperoleh margin yang jauh lebih tinggi.
"Perusahaan-perusahaan ini mencetak uang karena harga minyak melonjak di seluruh dunia. Exxon dan Chevron memiliki kilang yang beroperasi dengan sangat baik. Kami berada pada margin penyulingan tertinggi untuk bensin, bahan bakar jet, dan diesel," kata Lipow dikutip dari CNN, Sabtu (8/8/2026).
Divisi hilir Chevron yang mengelola kilang-kilang minyak menjadi kontributor utama pertumbuhan. Segmen ini berbalik dari kerugian US$ 817 juta (Rp 14,6 triliun) pada kuartal II-2025 menjadi keuntungan US$ 4,9 miliar atau setara Rp 87,6 triliun.
Perusahaan energi Eropa, Shell, juga menikmati momentum serupa. Raksasa migas asal Inggris ini membukukan laba hampir US$ 10 miliar atau sekitar Rp 178,97 triliun pada kuartal lalu—lebih dari dua kali lipat keuntungan tahun sebelumnya dan menjadi laba kuartalan tertinggi kedua dalam sejarah perusahaan.
Lonjakan laba perusahaan minyak AS ini terjadi di tengah kekhawatiran inflasi global akibat tingginya biaya energi. Bagi negara pengimpor seperti Indonesia, harga minyak yang bertahan tinggi berpotensi menekan anggaran subsidi energi dan mendorong kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri.
Investor yang memegang saham sektor energi global perlu mencermati apakah harga minyak dapat bertahan di level saat ini. Normalisasi pasokan dari Timur Tengah atau kesepakatan gencatan senjata berpotensi mengoreksi harga dan menekan margin penyulingan yang sedang berada di titik tertinggi.