MEDAN — Stan Disbudparekraf Sumut di PRSU ke-50 menghadirkan replika nisan Syekh Rukunuddin yang diyakini sebagai salah satu ulama perintis penyebaran Islam di Nusantara. Koleksi ini berasal dari Kompleks Makam Mahligai di Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, sebuah kawasan perbukitan seluas sekitar 3 hektare yang menyimpan lebih dari 200 makam kuno.
Barus dikenal sebagai salah satu pintu masuk awal Islam ke Nusantara. Kompleks Makam Mahligai bersama Situs Papan Tinggi menjadi bukti sejarah yang hingga kini masih dikunjungi peziarah dan peneliti. Makam Syekh Rukunuddin disebut sebagai salah satu makam tertua di kawasan tersebut.
"Syekh Rukunuddin diyakini sebagai salah satu ulama awal yang menyebarkan Islam di Nusantara. Makam beliau di Barus hingga kini menjadi salah satu situs sejarah sekaligus tujuan ziarah," ujar Nadil, petugas UPTD Taman Budaya Sumut, didampingi Dina, di stan Disbudparekraf, Kamis (24/7).
Selain replika nisan, stan Disbudparekraf juga menampilkan miniatur situs megalit Bawomataluo dari Nias Selatan, ukiran gorga Batak Toba, Tongkat Tunggal Panaluan, serta patung-patung khas Batak Toba. Ada pula peralatan pembuatan batik, lukisan atraksi lompat batu Nias, dan sejumlah artefak budaya lainnya.
Menurut Nadil, koleksi-koleksi itu sengaja ditampilkan agar masyarakat, terutama generasi muda, semakin mengenal kekayaan sejarah dan budaya Sumatera Utara. "Kami berharap pameran ini bisa meningkatkan minat generasi muda untuk melestarikan warisan budaya daerah," katanya.
Keberadaan stan ini menjadi salah satu upaya Disbudparekraf Sumut untuk memperkenalkan nilai sejarah dan peradaban yang dimiliki provinsi ini. Melalui partisipasi dalam PRSU ke-50, diharapkan kesadaran akan pentingnya pelestarian cagar budaya terus tumbuh di kalangan masyarakat.
Kompleks Makam Mahligai sendiri masih menjadi destinasi wisata religi dan sejarah yang ramai dikunjungi, khususnya oleh peziarah dan akademisi yang meneliti jejak Islam awal di Nusantara. Replika nisan yang dipamerkan kali ini menjadi pengingat langsung akan peran Barus dalam sejarah peradaban Indonesia.